MSRI, GRESIK – Dalam ikhtiar memperdalam nilai-nilai keislaman serta meneladani perjuangan para ulama penyebar Islam di Nusantara, Jama’ah Sholawat Ibrohimiyah Wringinanom, Gresik, menggelar Riyadho Spiritual Jawa–Sumatra 2026. Kegiatan penuh hikmah ini dipimpin langsung oleh Abuya Ahmad Yani Illiyin selaku Guru Mursyid sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin, yang beralamat di Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Saat memberikan keterangan kepada wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Kamis, (9/4/2026) Abuya menegaskan bahwa riyadho merupakan perjalanan suci untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui dzikir, doa, dan ziarah kepada para kekasih-Nya.
“Riyadho ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan rihlah ruhaniyah untuk membersihkan hati, memperkuat keimanan, dan meneladani perjuangan para ulama dalam menyebarkan Islam dengan penuh keikhlasan,” tuturnya.
Perjalanan Suci Penuh Keikhlasan
Kegiatan riyadho ini diikuti sekitar 25 jama’ah yang berangkat dari Gresik menggunakan dua unit kendaraan minibus jenis Hiace. Dengan niat ibadah yang tulus, rombongan memulai perjalanan panjang yang sarat makna spiritual sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.
Awal Perjalanan: Ziarah di Tanah Jawa
Perjalanan diawali dengan ziarah ke makam ulama besar Syekh Abdurrahman Addardiri di Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Dalam suasana khusyuk, para jama’ah melantunkan sholawat, dzikir, dan doa bersama sebagai bentuk tawassul dan penguatan niat.
Momentum ini menjadi titik awal penyatuan hati dalam mengharap keberkahan dan syafaat dari para kekasih Allah yang berjasa besar dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Menyeberangi Selat dengan Tawakal
Setelah menyelesaikan rangkaian ziarah di Pulau Jawa, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Merak untuk menyeberang ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Penyeberangan laut selama kurang lebih dua jam menjadi ruang kontemplasi spiritual, di mana lantunan dzikir dan doa terus menggema, menguatkan ketawakalan kepada Allah SWT.
Napak Tilas Sejarah Islam di Ranah Minangkabau
Setibanya di Pulau Sumatra, perjalanan dilanjutkan menuju berbagai titik ziarah di Sumatera Barat. Rombongan mengunjungi makam Raja Adityawarman yang juga dikenal sebagai Syekh Abdurrahman Baluluk di wilayah Bukittinggi.
Selanjutnya, jama’ah berziarah ke makam Syekh Khatib Sambas Minangkabau, seorang ulama besar yang berperan penting dalam perkembangan tarekat dan dakwah Islam di Nusantara. Rangkaian perjalanan juga mencakup kunjungan ke Pantai Air Manis, yang dikenal dengan legenda Malin Kundang sebagai sarana refleksi moral tentang pentingnya berbakti kepada orang tua.
Puncak Riyadho di Ulakan
Puncak kegiatan dilaksanakan dengan ziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan di Kabupaten Padang Pariaman. Beliau merupakan ulama besar penyebar Islam di Minangkabau dan tokoh penting dalam Tarekat Syattariyah.
Di kawasan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional tersebut, jama’ah melaksanakan dzikir bersama, doa, serta penguatan spiritual dalam suasana yang penuh kekhusyukan.
Menelusuri Jejak Sejarah dan Ulama
Perjalanan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Datuak Gadang Tuanku Dauli Sikabau atau yang dikenal sebagai Datuak Cancang Latiah di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Rombongan juga menapaki situs bersejarah Candi Pulau Sawah di Siguntur serta Candi Padang Roco yang menyimpan jejak peradaban masa lampau.
Ziarah di Lampung hingga Banten
Dalam perjalanan kembali, jama’ah berziarah ke makam Keramat Tubagus Yahya di Teluk Betung Barat dan makam Syekh Muhammad Faqih di Panjang, Kota Bandar Lampung.
Rangkaian riyadho ditutup dengan ziarah ke makam Sultan Maulana Hasanuddin di Banten, pendiri Kesultanan Banten sekaligus putra Sunan Gunung Jati. Ziarah ini menjadi penutup perjalanan spiritual yang sarat nilai sejarah dan keberkahan.
Hakikat Riyadho: Penyucian Jiwa dan Penguatan Iman
Selama kurang lebih dua pekan, jama’ah tidak hanya menempuh perjalanan geografis, tetapi juga menjalani proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), memperkuat keimanan, serta mempererat ukhuwah Islamiyah.
Saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI, Abuya kembali menegaskan bahwa riyadho merupakan latihan spiritual yang mengajarkan keikhlasan dan kerendahan hati.
“Melalui riyadho ini, kita belajar menundukkan ego, memperbanyak dzikir, serta meneladani akhlak para ulama dalam berdakwah demi meraih ridha Allah SWT,” ujarnya.
Harapan dan Doa
Kegiatan ini diharapkan menjadi wasilah turunnya keberkahan bagi seluruh peserta serta menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk terus menjaga tradisi ziarah dan menghormati para ulama.
“Semoga perjalanan ini membawa barokah ilmu dari para kekasih Allah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperkuat cinta kepada Rasulullah SAW, serta menumbuhkan semangat persatuan umat,” ungkap Abah Ahmad Amanu Salim, salah satu jama’ah.
Riyadho Spiritual Jawa–Sumatra 2026 menjadi bukti bahwa tradisi Islam Nusantara tetap hidup dan mengakar kuat. Di tengah arus modernitas, nilai-nilai dzikir, cinta Ilahi, dan keteladanan ulama terus menjadi cahaya yang menerangi perjalanan umat menuju ridha Allah SWT.
Reporter : Cak Loem
Editor : Redaksi MSRI
dibaca

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments