Mahasiswa Universitas Mpu Tantular Perdalam Nilai Bhinneka Tunggal Ika melalui Kunjungan Edukatif ke Museum Mpu Tantular Sidoarjo

Mahasiswa Universitas Mpu Tantular Perdalam Nilai Bhinneka Tunggal Ika melalui Kunjungan Edukatif ke Museum Mpu Tantular Sidoarjo
Dok, foto: Mahasiswa Universitas Mpu Tantular Perdalam Nilai Bhinneka Tunggal Ika melalui Kunjungan Edukatif ke Museum Mpu Tantular Sidoarjo.

MSRI, SIDOARJO - Universitas Mpu Tantular Kampus A, Jalan Cipinang Besar Utara No. 2, Jakarta Timur, melaksanakan kunjungan edukatif ke Museum Mpu Tantular yang berlokasi di Jalan Raya Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (24/1/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda akademik mahasiswa dalam rangka memperdalam pemahaman sejarah bangsa, nilai-nilai kebangsaan, serta pembentukan karakter melalui warisan pemikiran Mpu Tantular.

Dalam kunjungan tersebut, pengelola Museum Mpu Tantular memaparkan sejarah pendirian museum yang awalnya berlokasi di Kota Surabaya. Seiring perkembangan jumlah dan ragam koleksi, museum kemudian dipindahkan dari kawasan Mayangkara ke Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2004.

Pemindahan ini dilakukan karena keterbatasan ruang di lokasi lama, sehingga diperlukan area yang lebih luas untuk penataan pameran, penyimpanan koleksi, serta peningkatan pelayanan kepada pengunjung.

Mahasiswa Universitas Mpu Tantular Perdalam Nilai Bhinneka Tunggal Ika melalui Kunjungan Edukatif ke Museum Mpu Tantular Sidoarjo


Saat ini, Museum Mpu Tantular berada di bawah naungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Museum tersebut memiliki sekitar sepuluh jenis koleksi, meliputi biologika, arkeologika, etnografika, historika, hingga filologika. Salah satu koleksi unggulan yang menjadi kebanggaan museum adalah Kitab Sutasoma, karya monumental Mpu Tantular yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit.

Pengelola museum menjelaskan bahwa penamaan Museum Mpu Tantular merupakan bentuk penghormatan sekaligus upaya mewarisi spirit Pujangga Besar Majapahit tersebut. Melalui Kitab Sutasoma, bangsa Indonesia mewarisi semboyan pemersatu “Bhinneka Tunggal Ika”, yang bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu. Ungkapan ini berasal dari kakawin berbahasa Jawa Kuno yang ditulis di atas daun lontar dan mencerminkan nilai kearifan lokal pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk sekitar tahun 1385–1389.

Kitab Sutasoma juga menggambarkan realitas sosial Kerajaan Majapahit sebagai entitas yang majemuk. Berbagai agama dan kepercayaan, seperti Hindu, Buddha, serta aliran kepercayaan lainnya, hidup berdampingan secara harmonis dan mendapatkan perlindungan negara. Para pemuka agama bahkan diberi ruang di lingkungan istana untuk memberikan pandangan dan pertimbangan dalam proses pengambilan kebijakan. 

Nilai toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan inilah yang kemudian diabadikan sebagai identitas bangsa Indonesia dan secara resmi ditetapkan dalam lambang negara melalui Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1951 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Mahasiswa Universitas Mpu Tantular Perdalam Nilai Bhinneka Tunggal Ika melalui Kunjungan Edukatif ke Museum Mpu Tantular Sidoarjo


Lebih lanjut, pengelola museum menegaskan bahwa pemindahan Museum Mpu Tantular ke Sidoarjo merupakan langkah strategis dalam pengembangan museum sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi.

Dengan area yang lebih luas, museum mampu menyajikan tata pamer yang lebih representatif serta melayani pengunjung dalam jumlah yang lebih besar. Museum diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran yang menarik, khususnya bagi generasi muda, untuk kembali mengenal dan mencintai sejarah serta nilai-nilai luhur bangsa.

Ketua kelompok kunjungan, Agus Suparto, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari Kitab Sutasoma sekaligus menggali nilai-nilai karakter Mpu Tantular yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Menurutnya, perbedaan yang ada di tengah masyarakat kerap memicu konflik apabila tidak disikapi dengan kebijaksanaan.

“Saya menyadari bahwa selama ini saya menganggap diri sudah cukup toleran. Namun dalam praktiknya, saya masih sering menilai orang lain dari sudut pandang pribadi tanpa benar-benar memahami latar belakang mereka,” ujar Agus. 

Mahasiswa Universitas Mpu Tantular Perdalam Nilai Bhinneka Tunggal Ika melalui Kunjungan Edukatif ke Museum Mpu Tantular Sidoarjo


Ia menambahkan bahwa ajaran Mpu Tantular mengingatkan pentingnya memahami kebenaran secara kontekstual, sehingga mampu menumbuhkan sikap saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat.

Bagi Agus dan rekan-rekannya, Museum Mpu Tantular bukan sekadar destinasi wisata sejarah, melainkan ruang refleksi untuk menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Kunjungan ini memberikan pengalaman batin sekaligus pemahaman baru mengenai pentingnya toleransi, saling menghargai, dan hidup berdampingan dalam kemajemukan.

Kegiatan kunjungan tersebut merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap semester sebagai bagian dari tugas kelompok mata kuliah Pembangunan Karakter. Mahasiswa yang mengikuti kunjungan ini merupakan mahasiswa Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) kelas Glosa Universitas Mpu Tantular Jakarta, Program Studi Ilmu Hukum, dengan dosen pengampu Ir. Rodeyar S. Pasaribu, M.Si.

Adapun mahasiswa peserta kunjungan ke Museum Mpu Tantular Sidoarjo antara lain Agus Suparto (ketua), Mariani, Ernawati, Endri Supratman, Faisal Reza, Donny Willeam, Ermin Jaka Purbaya, Marlon Brando, Fahrizal, Erico Tambunan, Dimas Saputra, dan Dhani Fadhillah.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga mampu menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan kebijaksanaan para leluhur sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Reporter: Eka F. A

Editor: Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama