Deklarasi PNN di Rumah Pergerakan H.O.S. Tjokroaminoto, Peneleh, Berlangsung Khidmat dan Sarat Semangat Persatuan

Deklarasi PNN di Rumah Pergerakan H.O.S. Tjokroaminoto, Peneleh, Berlangsung Khidmat dan Sarat Semangat Persatuan

MSRI, SURABAYA - Partai Nasionalis Nusantara (PNN) menggelar deklarasi di kawasan Rumah Pergerakan H.O.S. Tjokroaminoto, Jalan Peneleh Gang VII, Surabaya, Kamis (1/10/2026). Kegiatan berlangsung khidmat dan sarat semangat persatuan, kebangsaan, serta komitmen membangun kekuatan politik yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Deklarasi yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB tersebut digelar di depan rumah bersejarah H.O.S. Tjokroaminoto. Pemilihan lokasi ini memberikan dimensi tersendiri karena Peneleh merupakan salah satu ruang penting dalam sejarah perkembangan gagasan dan pergerakan kebangsaan Indonesia.

Rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Peneleh kini menjadi museum yang dikelola Pemerintah Kota Surabaya. Rumah tersebut dikenal sebagai ruang tempat bertemunya berbagai tokoh dan gagasan pergerakan pada awal abad ke-20. Museum Surabaya mencatat keberadaan sejumlah tokoh pergerakan yang pernah tinggal atau berada dalam lingkungan rumah tersebut, antara lain Soekarno, Musso, Alimin, Semaoen, Darsono, dan Kartosoewirjo.

Deklarasi PNN di Rumah Pergerakan H.O.S. Tjokroaminoto, Peneleh, Berlangsung Khidmat dan Sarat Semangat Persatuan

Peneleh dan Jejak Pendidikan Politik Kebangsaan

H.O.S. Tjokroaminoto dikenal sebagai salah satu tokoh penting pergerakan nasional dan pemimpin Sarekat Islam. Kediamannya di Peneleh bukan hanya menjadi tempat tinggal keluarga, tetapi juga berkembang sebagai ruang belajar, diskusi, kaderisasi, dan pertukaran gagasan politik.

Berbagai latar pemikiran bertemu di rumah tersebut. Para pemuda yang berada dalam lingkungan Tjokroaminoto kemudian menempuh jalan perjuangan masing-masing dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Museum H.O.S. Tjokroaminoto menyebut rumah tersebut sebagai ruang penting dalam pembentukan intelektual dan karakter sejumlah tokoh pergerakan. Soekarno muda, misalnya, pernah tinggal di rumah tersebut ketika menempuh pendidikan di Surabaya.

Jejak sejarah itu menjadikan Peneleh bukan sekadar sebuah kawasan permukiman, melainkan salah satu ruang yang merekam proses tumbuhnya kesadaran kebangsaan melalui pendidikan, diskusi, organisasi, dan perdebatan gagasan.

Dalam konteks tersebut, deklarasi PNN di kawasan Peneleh membawa pesan simbolik: bahwa politik kebangsaan juga membutuhkan proses pendidikan, konsolidasi, kaderisasi, serta dialog dengan masyarakat.

Deklarasi PNN di Rumah Pergerakan H.O.S. Tjokroaminoto, Peneleh, Berlangsung Khidmat dan Sarat Semangat Persatuan

Deklarasi Bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila

Deklarasi PNN berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026. Momentum tersebut turut memberikan nuansa kebangsaan dalam seluruh rangkaian kegiatan.

PNN dipimpin Teten Indra Abdillah sebagai Ketua Umum dan Menur Soekarno sebagai Sekretaris Jenderal, bersama jajaran Tim 7.

Dalam deklarasinya, PNN memperkenalkan nilai perjuangan yang menekankan akhlak, nasionalisme, persatuan, kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran.

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pengurus dan kader PNN serta sejumlah unsur masyarakat dan perangkat pemerintahan setempat, di antaranya Ketua RW 04, Ketua RT 02, serta unsur ketenteraman dan ketertiban (Trantib) Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng.

Pengamanan kegiatan juga dilakukan jajaran kepolisian untuk menjaga agar seluruh rangkaian deklarasi berlangsung tertib dan kondusif.

Deklarasi PNN di Rumah Pergerakan H.O.S. Tjokroaminoto, Peneleh, Berlangsung Khidmat dan Sarat Semangat Persatuan

Cak Bram: Deklarasi Bukan Sekadar Seremoni

Sementara itu, Ketua DPW PNN Provinsi Jawa Timur, Cak Bram, saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI di sela-sela kegiatan, menegaskan bahwa deklarasi tersebut tidak semata-mata merupakan agenda seremonial.

Menurut Cak Bram, pemilihan Peneleh sebagai lokasi deklarasi memiliki makna historis karena kawasan tersebut menyimpan jejak perjalanan pemikiran dan pergerakan kebangsaan Indonesia.

“Bagi kami, deklarasi ini bukan sekadar seremoni. Ini menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen membangun organisasi yang berlandaskan nilai kebangsaan, persatuan, keadilan, dan kemakmuran,” ujar Cak Bram.

Ia menegaskan, DPW PNN Provinsi Jawa Timur akan memperkuat konsolidasi organisasi, kaderisasi, serta komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.

“Keberadaan PNN di Jawa Timur akan kami arahkan pada penguatan kader dan kerja organisasi yang berkesinambungan. Persatuan, kebersamaan, dan kepentingan masyarakat harus menjadi bagian penting dalam setiap langkah perjuangan organisasi,” tegasnya.

Cak Bram juga menilai bahwa momentum deklarasi di Peneleh harus menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah organisasi politik tidak hanya ditentukan oleh struktur, tetapi juga oleh kualitas kader, konsistensi perjuangan, dan kedekatan dengan masyarakat.

Teten Tegaskan Politik Kebangsaan

Dalam orasinya, Ketua Umum PNN Teten Indra Abdillah menyampaikan bahwa partai yang dipimpinnya ingin membangun kekuatan politik yang berpijak pada nilai kebangsaan, akhlak, persatuan nasional, kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran rakyat.

Menurut Teten, PNN tidak hanya diarahkan menjadi wadah politik, tetapi juga sebagai organisasi kader yang memiliki kapasitas untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Kita ingin membangun partai kader dan nasionalis. Kader yang berdaya harus mampu memberdayakan masyarakat dan rakyat Indonesia,” tegas Teten.

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan politik dan ekonomi.

“Politik dan ekonomi harus berjalan beriringan sehingga tidak timpang dan berjalan bersama menuju Indonesia yang maju, adil, dan makmur,” tandasnya.

Menggali Gagasan Soekarno dan Hatta

Dalam narasi perjuangannya, PNN menyampaikan gagasan untuk mempertemukan semangat politik kebangsaan yang dikaitkan dengan pemikiran Ir. Soekarno dengan gagasan ekonomi kerakyatan Drs. Mohammad Hatta.

Gagasan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari upaya PNN memperkenalkan arah politik yang tidak hanya berbicara mengenai kekuasaan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat dan kepentingan rakyat.

Sebagai organisasi politik yang tengah membangun struktur dan memperkenalkan identitasnya kepada masyarakat, PNN juga mulai menggunakan sebutan “Partai Banteng Putih” dalam sejumlah narasi internal dan publiknya.

Deklarasi berlangsung di tengah teriknya matahari Kota Surabaya. Kondisi tersebut tidak menyurutkan antusiasme para pengurus dan kader yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Semangat kebersamaan tetap terlihat hingga acara berakhir.

Deklarasi kemudian ditutup dengan doa bersama dan pekikan semangat perjuangan:

“MERDEKA!”

Partai Nasionalis Nusantara — Adil dan Makmur.

(Donifsb)

Reporter: Donifsb
MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama