MIMPI HIDUP DI NEGARA IDEAL Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo

MIMPI HIDUP DI NEGARA IDEAL  Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo

Oleh: Soejitno Irmim

Setiap rakyat pada dasarnya akan melewati tiga fase penting dalam kehidupan: fase pendidikan, fase bekerja, dan fase lanjut usia atau pensiun.

Negara yang ideal adalah negara yang hadir secara nyata dalam ketiga fase tersebut. Bukan hanya ketika rakyat membutuhkan bantuan, tetapi sejak mereka mempersiapkan masa depan, menjalani kehidupan produktif, hingga menikmati hari tua dengan tenang dan bermartabat.

Fase pertama adalah pendidikan.

Negara menyediakan pendidikan yang bermutu, terjangkau, dan sedapat mungkin tidak menjadi beban berat bagi keluarga. Pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada ijazah, tetapi harus mampu membentuk manusia yang berilmu, berkarakter, sehat, kreatif, mandiri, dan memiliki kompetensi untuk menghadapi kehidupan.

Fase kedua adalah bekerja.

Setelah memperoleh pendidikan, rakyat membutuhkan kesempatan untuk bekerja dan membangun kehidupan yang layak. Negara tidak harus menjadi pemberi pekerjaan bagi seluruh rakyat, tetapi negara wajib menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat agar lapangan kerja tumbuh dan berkembang.

Industri berkembang, investasi berjalan sehat, UMKM semakin kuat, pertanian maju, perdagangan tumbuh, dan sumber daya alam dikelola secara produktif serta berkelanjutan.

Sebab, bekerja bukan sekadar memperoleh penghasilan. Bekerja adalah bagian dari martabat manusia dan jalan bagi seseorang untuk membangun kehidupan keluarganya secara mandiri.

Fase ketiga adalah masa tua.

Setelah puluhan tahun bekerja dan memberikan kontribusi kepada bangsa, rakyat semestinya tidak memasuki masa tua dengan kecemasan terhadap biaya hidup, kesehatan, dan kebutuhan dasar.

Negara perlu memastikan adanya sistem jaminan sosial, pelayanan kesehatan, serta perlindungan hari tua yang layak. Dengan demikian, seseorang yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bekerja dan berkontribusi kepada negara tidak merasa ditinggalkan ketika memasuki usia lanjut.

Lalu muncul sebuah mimpi yang lebih besar.

Bagaimana jika negara mampu membiayai sebagian besar kebutuhan tersebut melalui pengelolaan kekayaan alam, aset negara, BUMN, industri strategis, serta sumber-sumber ekonomi produktif lainnya, sehingga beban masyarakat dapat ditekan seminimal mungkin?

Gagasan tersebut bukan sekadar angan-angan. Konstitusi telah memberikan arah yang jelas bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia saat ini?

Indonesia tentu telah menjalankan sebagian fungsi tersebut. Namun, struktur pembiayaan negara masih berbeda jauh dari gambaran negara ideal yang kita impikan.

Dalam APBN 2026, target pendapatan negara sekitar Rp3.153,6 triliun, dengan penerimaan perpajakan sekitar Rp2.693,7 triliun atau 82 persen, sedangkan PNBP sekitar Rp459,2 triliun atau 18 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penerimaan perpajakan masih menjadi sumber utama pembiayaan negara.

Karena itu, persoalan besarnya bukan semata-mata “negara memungut pajak atau tidak.”

Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah: seberapa optimal negara mengelola seluruh kekayaan yang dimilikinya—SDA, BUMN, aset negara, industri, perdagangan, dan berbagai sumber penerimaan lainnya—sehingga manfaat ekonominya semakin besar kembali kepada rakyat?

Mimpi tentang negara ideal bukan berarti rakyat tidak mempunyai kewajiban kepada negara.

Justru sebaliknya.

Mimpi itu adalah tentang negara yang mampu mengelola kekayaan bersama secara amanah, profesional, transparan, dan berkeadilan, sehingga rakyat memperoleh pendidikan yang layak, kesempatan kerja yang bermartabat, serta jaminan kehidupan di masa tua.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan hanya seberapa besar APBN yang berhasil dikumpulkan.

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa aman rakyat menjalani kehidupannya.

Bisa belajar dengan tenang.

Bisa bekerja dengan bermartabat.

Dan kelak dapat menua dengan tenteram dan terjamin.

Itulah mungkin makna sederhana dari sebuah cita-cita besar:

Gemah Ripah Loh Jinawi,
Toto Tentrem Kerto Raharjo.

Sebuah negeri yang kaya bukan hanya karena sumber daya alamnya, tetapi karena kekayaan itu benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Semoga mimpi indah ini suatu saat menjadi kenyataan.

Aamiin.

MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama