MSRI, SURABAYA – Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menerjunkan Tim Trauma Healing untuk memberikan dukungan psikososial sekaligus membantu memulihkan kondisi psikologis para penyintas bencana.
Gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 berdampak pada sejumlah wilayah di NTT, di antaranya Nagekeo, Bajo, Sikka, Ende, Reo, Lambaleda, dan Riung. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan dampak fisik dan material, tetapi juga berpotensi meninggalkan tekanan psikologis bagi masyarakat yang mengalaminya.
Sebagai bentuk respons kemanusiaan, Bagian Psikologi Biro SDM Polda Jatim mengerahkan personel untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat terdampak.
Tim Psikologi Polda Jatim dipimpin Iptu Ellan Wahyudi, M.Psi., Psikolog, bersama empat personel lainnya. Mereka memberikan sejumlah layanan pendampingan, mulai dari dukungan psikologis awal, konseling, edukasi pengelolaan stres, hingga aktivitas kelompok yang disesuaikan dengan kondisi para penyintas di lokasi bencana.
Saat memberikan keterangan kepada wartawan MSRI, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Jules Abraham Abast menyampaikan bahwa kehadiran Tim Trauma Healing merupakan bagian dari upaya Polri membantu masyarakat menghadapi dampak psikologis pascabencana.
Menurutnya, peran Polri di tengah masyarakat tidak sebatas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga hadir dalam situasi kemanusiaan untuk memberikan penguatan kepada masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.
“Dukungan psikososial ini diharapkan dapat membantu masyarakat kembali merasa aman, mengurangi kecemasan, serta membangun kembali semangat untuk beraktivitas,” ujar Kombes Pol Abast kepada wartawan MSRI.
Dalam pelaksanaannya, tim memberikan sejumlah metode pendampingan psikologis, antara lain USEFT, Butterfly Hug, serta terapi bermain. Metode tersebut diterapkan secara humanis dengan mempertimbangkan usia, kondisi, serta kebutuhan psikologis masing-masing penyintas.
“Metode tersebut disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat yang terdampak. Pendekatan dilakukan secara humanis dan disesuaikan dengan kondisi para penyintas,” jelasnya.
Pendampingan tidak hanya menyasar anak-anak. Para orang tua dan keluarga juga mendapatkan edukasi untuk mengenali tanda-tanda stres maupun tekanan psikologis, sekaligus memahami cara memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang masih mengalami kecemasan atau trauma akibat bencana.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan psikososial yang dikoordinasikan oleh Biro Psikologi SSDM Polri. Dalam pelaksanaannya, turut dilibatkan personel psikologi dari Polda Jawa Tengah, Polda Bali, Polda NTB, dan Polda NTT.
Kehadiran lintas wilayah tersebut menjadi wujud sinergi Polri dalam memberikan pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya dalam menghadapi dampak psikologis pascabencana.
Kombes Pol Abast berharap kehadiran Tim Trauma Healing dapat memberikan kekuatan sekaligus membangun kembali rasa percaya diri masyarakat untuk bangkit dari situasi sulit.
“Kami berharap kehadiran Tim Trauma Healing dapat memberikan penguatan bagi masyarakat, bukan hanya membantu mengurangi dampak psikologis akibat gempa, tetapi juga memperkuat solidaritas dan menumbuhkan harapan agar masyarakat dapat bangkit serta menata kembali kehidupannya,” pungkas Kombes Abast.
Bagi Polda Jatim, pemulihan pascabencana bukan semata persoalan membangun kembali sarana dan prasarana, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan dukungan untuk memulihkan rasa aman, ketenangan, dan harapan.
Reporter: Dvd
MSRI – Perspektif • Akurat • Terpercaya
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments