81 Tahun Indonesia Merdeka, FPN Tegaskan Krisis Air Adalah Ancaman Peradaban: Lawang Jadi Titik Konsolidasi Gerakan Konservasi

81 Tahun Indonesia Merdeka, FPN Tegaskan Krisis Air Adalah Ancaman Peradaban: Lawang Jadi Titik Konsolidasi Gerakan Konservasi

MSRI, LAWANG MALANG - Peringatan 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di Lawang, Kabupaten Malang, diarahkan tidak sekadar menjadi seremoni perayaan. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat komitmen menjaga sumber daya air, konservasi hutan, kelestarian budaya, dan keberlanjutan kehidupan.

Komitmen itu mengemuka dalam kegiatan OAKsperience yang digelar di Oak Lawang Hotel & Convention, Sabtu malam, 30 Agustus 2026. Kegiatan menghadirkan pertunjukan wayang “Drupadi Wanito Pinilih” sekaligus menjadi ruang konsolidasi berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap budaya dan lingkungan.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari Penetapan Satgas Peduli Air yang sebelumnya dilaksanakan di lokasi yang sama. Air dan kawasan hutan menjadi perhatian utama karena keberadaannya memiliki keterkaitan langsung dengan keberlangsungan kehidupan dan pembangunan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dodik Purwoko, Pendiri sekaligus Ketua Umum Dewan Majelis Nasional Formasy Praja Nusantara (FPN), bersama Yoyok Yuliono, Ketua DMD FPN Kota Batu.

Turut hadir Ambassador OAK Lawang Guntur Bisowarno, Ki Argo Setyo, Ki Tohari, Kiswara, Saifulrohman, H. Devid, Choirul Anam, para sesepuh PEPADI, Kaweruh Batin Tulis Papan Kasunyatan, Paguyuban BATIK KITAB BATIK Singosari, Satgas Peduli Mata Air Nusantara, Satgas Basis DELING, Ki Fanani dari Besalen Tumapel, Yayasan Salam Satu Jiwa, PPMAL, Komunitas Kopi Peradaban Gunung Arjuno, Paguyuban Komunitas Sungai Indonesia, serta jejaring jurnalistik KAIROS.

Pertemuan tersebut dipusatkan di “Episentrum 1000 Lawang”, yang dikembangkan dengan konsep Eko Bio Culture Tourism Support System. Konsep tersebut mendorong pengembangan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga mengintegrasikan aspek budaya dan perlindungan ekologi.

Dalam sambutannya, Dodik Purwoko menegaskan bahwa pesan dalam lakon Drupadi memiliki relevansi dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga kehidupan dan peradaban.

Menurutnya, Drupadi bukan sekadar tokoh dalam cerita pewayangan, melainkan simbol pesan moral mengenai tanggung jawab, pengabdian kepada negeri, dan keberpihakan terhadap keberlangsungan kehidupan.

“Drupadi menerima nasib atas waktu dan ruang sebagai manusia. Ia diikutkan menentukan peradaban. Ia bukan lagi sosok, tetapi titipan pesan moral: bhakti untuk negeri dan pengabdian kepada kehidupan,” ujar Dodik.

Ia menegaskan bahwa persoalan lingkungan, khususnya tata kelola air, tidak dapat dipandang sebagai isu sektoral. Ketersediaan air merupakan bagian fundamental dari keberlangsungan masyarakat dan pembangunan.

“Mengabaikan tata kelola air sama artinya dengan melumpuhkan peradaban,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, FPN juga melantik Guntur Bisowarno dari Bammbo Spirit Nusantara sebagai anggota Divisi Humas Dewan Majelis Nasional FPN.

Pelantikan tersebut diikuti penguatan agenda kolaborasi antara kampus, komunitas, masyarakat, dan jejaring organisasi dalam menjalankan program menjaga serta memulihkan sumber daya air dan konservasi air di kawasan hutan Divisi Regional Jawa Timur.

Penguatan gerakan juga diarahkan melalui jejaring Pasuruan Raya yang melibatkan Romsul Hasbawi, Ketua DMD FPN Pasuruan Raya; Sutikno, Ketua LSM Laskar Merah Putih; Gio, Kabiro Media; serta GM GRIB Pasuruan Raya.

Kolaborasi tersebut ditujukan untuk memperkuat langkah mitigasi terhadap potensi krisis air sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan sumber mata air, hutan, dan ekosistem yang menjadi penyangga kehidupan.

Sementara itu, Asep Kusdinar, Kepala Bakorwil III Malang, menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi lintas elemen tersebut.

Menurutnya, sinergi pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, masyarakat, dan berbagai unsur lainnya diperlukan untuk mendukung agenda pembangunan jangka panjang, termasuk pembangunan Pasuruan, Megapolitan Malang Raya, Koridor Selatan 2045, serta Jawa Timur.

Kegiatan ditutup setelah pertunjukan wayang selesai. Namun, agenda yang dibawa tidak berhenti pada panggung kebudayaan.

Peringatan 81 tahun Kemerdekaan RI menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pembangunan dan kemajuan daerah harus berjalan seiring dengan perlindungan sumber daya alam.

Menjaga air berarti menjaga kehidupan. Menjaga hutan berarti menjaga masa depan. Dan merawat budaya berarti mempertahankan jati diri bangsa.

Semangat tersebut menjadi pijakan dalam memperkuat pengabdian kepada negeri melalui kerja nyata, kolaborasi, dan tanggung jawab bersama terhadap bumi pertiwi.

Wujud bhakti untuk Indonesia tidak berhenti pada perayaan. Ia harus diwujudkan melalui kerja dan pengabdian yang memberi manfaat bagi kehidupan.

Reporter: Riawan (Sanex)

MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama