Istighotsah Sentral Menggema di Ponpes Internasional Al-Illiyin: Menyatukan Cinta Rasul, Sanad Ulama, dan Cahaya Keselamatan Umat

Istighotsah Sentral Menggema di Ponpes Internasional Al-Illiyin: Menyatukan Cinta Rasul, Sanad Ulama, dan Cahaya Keselamatan Umat

MSRI, GRESIK - Suasana malam yang penuh keberkahan dan lautan cinta kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW menyelimuti kawasan Pondok Pesantren Internasional Al-Illiyin, Sumberwaru, Wringinanom, Gresik, dalam kegiatan rutin Majelis Pengaosan dan Istighotsah Sentral Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah yang dipimpin langsung oleh Abuya Ahmad Yani Iliyin selaku Mursyid Tunggal Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah.

Ribuan jamaah dari berbagai daerah tampak memadati lokasi majelis. Tidak hanya dari Jawa Timur, para pecinta sholawat juga hadir dari Banyuwangi, Jakarta, Lamongan, Medan, hingga jamaah dari Malaysia. Kehadiran para habaib, kiai, ulama, dan masyarakat umum menjadi bukti bahwa majelis dzikir dan sholawat masih menjadi magnet ruhani yang menyatukan hati umat Islam di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia. Sabtu malam, 16 Mei 2026.

Acara yang dimulai ba’da Isya tersebut diisi dengan khotmil Qur’an, sholat taubat, sholat hajat, dzikir bersama, istighotsah, pengaosan, hingga lantunan sholawat yang menggema penuh kekhusyukan. Air mata haru dan doa-doa keselamatan seakan menyatu dalam suasana malam yang dipenuhi cahaya spiritual.

Dalam tausiyahnya, Abuya Ahmad Yani Iliyin menyampaikan bahwa berkumpulnya manusia di dalam majelis dzikir bukanlah sebuah kebetulan. Menurut beliau, pertemuan hati dalam majelis sholawat merupakan bagian dari takdir Allah sejak zaman azali.

“Sering kita berkumpul ini berarti dulu di zaman azali kita pernah berkumpul. Maka Allah kumpulkan lagi di dunia ini karena kelak kita akan dipertemukan kembali di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tutur beliau di hadapan jamaah.


Beliau juga menegaskan bahwa majelis dzikir bukan sekadar perkumpulan biasa, melainkan taman rahmat yang dipenuhi keberkahan para malaikat. Bahkan, seseorang yang hadir dengan niat tulus akan mendapatkan limpahan rahmat Allah, meskipun datang dengan penuh dosa dan kekurangan.

Dalam pengaosannya, Abuya mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan rumah tangga, saling memaafkan, serta menghindari prasangka buruk kepada sesama. Menurut beliau, rusaknya hati dan mudahnya seseorang menghina orang lain dapat menjadi sebab hilangnya keberkahan rezeki dan ketenangan hidup.

“Jangan pernah suka menghakimi nasib orang lain. Jangan membenci keburukan orang lain. Karena siapa yang menghina keburukan seseorang, maka ia tidak akan meninggal sebelum Allah memperlihatkan keburukan itu pada dirinya,” dawuh beliau yang disambut keheningan para jamaah.

Tak hanya membahas kehidupan dunia, Abuya juga menyampaikan pesan mendalam tentang kematian, husnul khotimah, dan pentingnya menjaga hubungan ruhani dengan Allah SWT melalui dzikir dan sholawat. Beliau menuturkan bahwa ciri orang yang mendapatkan akhir kehidupan yang baik dapat dilihat dari kecintaannya terhadap majelis ilmu dan sholawat.

“Lihat di mana seseorang berkumpul. Jika hatinya senang berkumpul di majelis sholawat dan dzikir, maka itu pertanda baik bagi perjalanan hidupnya,” ungkap beliau.

Istighotsah Sentral Menggema di Ponpes Internasional Al-Illiyin: Menyatukan Cinta Rasul, Sanad Ulama, dan Cahaya Keselamatan Umat

Istighotsah Sentral Menggema di Ponpes Internasional Al-Illiyin: Menyatukan Cinta Rasul, Sanad Ulama, dan Cahaya Keselamatan Umat


Majelis tersebut juga menjadi momentum penguatan sanad keilmuan dan kecintaan kepada para ulama serta Walisongo. Abuya menjelaskan bahwa dakwah Islam di Nusantara berkembang melalui kelembutan akhlak, budaya, dan pendekatan cinta sebagaimana diwariskan para wali Allah.

Beliau menyinggung perjuangan para Walisongo yang menyebarkan Islam dengan penuh kasih sayang, seni, dan kebijaksanaan tanpa kekerasan. Menurutnya, warisan ruhani itulah yang kini harus dijaga oleh generasi umat Islam agar tidak tercerabut dari sanad ulama dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Dalam suasana penuh kekhidmatan, lantunan kalimat Laa ilaaha illallah dan sholawat terus menggema. Abuya menjelaskan betapa agungnya kalimat tauhid yang mampu menghapus dosa dan menjadi penyelamat umat manusia.

“Terkadang satu orang membaca Laa ilaaha illallah, pahalanya bisa mengalir kepada keluarganya, bahkan tetangganya. Maka jangan pernah meremehkan dzikir dan sholawat,” tutur beliau.

Tak sedikit jamaah yang menangis haru saat doa bersama dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, keberkahan keluarga, kesehatan para ulama, dan husnul khotimah bagi seluruh umat Islam. Doa-doa dipanjatkan dengan penuh pengharapan agar Indonesia dijauhkan dari bala’, fitnah, perpecahan, dan krisis moral.

Kehadiran tamu dari luar daerah bahkan luar negeri menunjukkan bahwa Jam’iyah Sholawat Ibrohimiyah telah menjadi wadah pemersatu umat lintas wilayah. Semangat ukhuwah Islamiyah tampak begitu kuat ketika seluruh jamaah duduk bersimpuh tanpa membedakan status sosial, daerah, maupun latar belakang organisasi.

Di akhir majelis, Abuya Ahmad Yani Iliyin mengajak seluruh jamaah untuk terus istiqomah menghadiri majelis ilmu dan sholawat. Beliau menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan majelis dzikir adalah bekal menuju akhirat.

“Besok ketika kita meninggal dunia, yang menjadi penerang bukan harta dan jabatan, tetapi majelis ilmu, dzikir, dan sholawat yang pernah kita cintai,” pungkas beliau penuh haru.

Malam itu, Ponpes Internasional Al-Illiyin tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya manusia, namun juga menjadi taman ruhani yang menghadirkan ketenangan, cinta Rasulullah SAW, dan harapan akan syafaat di yaumul akhir kelak.

{Cak Loem}

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama