Alarm Kemanusiaan di Surabaya: Lansia Sakit dan Kelaparan, Respons Pemerintah Dipertanyakan

Alarm Kemanusiaan di Surabaya: Lansia Sakit dan Kelaparan, Respons Pemerintah Dipertanyakan


MSRI, SURABAYA – Di tengah geliat pembangunan dan modernisasi Kota Surabaya, fakta memilukan justru terungkap di wilayah Kelurahan Kejawan Putih Tambak, Kecamatan Mulyorejo. Seorang kakek lanjut usia dilaporkan hidup dalam kondisi memprihatinkan sakit, lemah, dan diduga tidak mendapatkan asupan makanan selama tiga hari terakhir, tanpa pendampingan keluarga maupun perhatian dari lingkungan sekitar. Minggu (29/3/2026).

Berdasarkan penelusuran lapangan, lansia tersebut telah menetap di Surabaya selama kurang lebih satu dekade dan hidup seorang diri di sebuah gubuk yang jauh dari standar kelayakan hunian. Kondisi fisik yang semakin menurun, ditambah keterbatasan ekonomi, membuatnya tak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar, termasuk makanan dan layanan kesehatan.

Temuan ini memantik keprihatinan sekaligus pertanyaan serius terkait efektivitas sistem perlindungan sosial di tingkat lokal. Ketua SAPURA, Musawwi, menilai kejadian tersebut tidak sekadar insiden kemanusiaan, melainkan mencerminkan adanya dugaan kelalaian dalam pengawasan dan penanganan warga rentan oleh pihak terkait.

“Ini sangat memprihatinkan. Di kota sebesar Surabaya, masih ditemukan warga yang sakit dan kelaparan hingga berhari-hari tanpa penanganan. Ini patut diduga sebagai bentuk kelambanan, bahkan pembiaran oleh pihak yang seharusnya hadir,” tegas Musawwi.

Ia menekankan bahwa pemerintah daerah, mulai dari tingkat kelurahan hingga dinas sosial, memiliki tanggung jawab moral dan struktural dalam memastikan tidak ada warga yang terabaikan, khususnya kelompok lansia yang hidup sebatang kara. Menurutnya, lemahnya pendataan serta minimnya pengawasan sosial berpotensi menjadi celah terulangnya kasus serupa.

Lebih jauh, Musawwi mendesak agar Pemerintah Kota Surabaya segera mengambil langkah konkret—mulai dari evakuasi medis, pemberian bantuan pangan, hingga penyediaan hunian yang layak dan manusiawi bagi lansia tersebut.

“Jangan sampai kemajuan kota hanya tampak di permukaan, sementara di sudut-sudut tertentu masih ada warga yang luput dari perhatian. Ini harus menjadi evaluasi serius,” imbuhnya.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono, yang akrab disapa Bram, turut angkat bicara. Dalam keterangannya kepada wartawan, ia menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan alarm keras bagi seluruh pemangku kebijakan.

“Kasus ini tidak bisa dipandang sebagai kejadian biasa. Ini adalah cermin dari masih adanya celah dalam sistem perlindungan sosial kita. Negara, melalui pemerintah daerah, wajib hadir dan tidak boleh abai terhadap warganya yang paling rentan,” tegas Bram.

Ia juga mengingatkan bahwa fungsi pengawasan sosial tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun juga seluruh elemen masyarakat. Namun demikian, menurutnya, aparat dan instansi terkait tetap menjadi garda terdepan yang tidak boleh lengah.

“Jika benar ada keterlambatan atau kelalaian, maka harus ada evaluasi menyeluruh. Jangan sampai ke depan muncul kasus serupa yang mencederai rasa kemanusiaan dan keadilan sosial,” tambahnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat kuat bahwa di balik kemajuan kota metropolitan, masih terdapat realitas sosial yang membutuhkan perhatian serius dan tindakan nyata. Kepekaan, kecepatan respons, serta sinergi antar pihak menjadi kunci agar tidak ada lagi warga yang hidup dalam keterlantaran tanpa uluran tangan.

{Redaksi MSRI}

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama