![]() |
| Dok, foto: Pelestari adat dan budaya Trowulan, Gus Yudi selaku Ketua Padepokan Eyang Macan Putih, menyampaikan keprihatinannya atas beredarnya konten tersebut. Keterangan pers, Jumat (13/2/2026). |
MSRI, MOJOKERTO - Beredarnya video di media sosial yang direkam di kawasan Patok Gajah, bagian dari kompleks bersejarah Pendopo Agung Trowulan, menuai sorotan publik. Konten yang diunggah melalui akun TikTok @pulkharisma tersebut dinilai kurang pantas oleh sejumlah pihak karena dilakukan di area yang memiliki nilai historis dan kultural tinggi.
Cuplikan video tersebut sempat viral pada 2 Februari 2025 dan memicu beragam tanggapan dari masyarakat, khususnya kalangan pelestari adat dan budaya di Trowulan.
Sebagaimana diketahui, Trowulan merupakan pusat peninggalan Kerajaan Majapahit, simbol kejayaan peradaban Nusantara pada abad ke-13 hingga ke-15. Kawasan ini diyakini sebagai ibu kota Majapahit, tempat lahirnya konsep persatuan Nusantara yang termaktub dalam Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada.
Secara historis, Pendopo Agung Trowulan dibangun sebagai simbol penghormatan terhadap kebesaran Majapahit. Meski bangunan pendopo saat ini merupakan rekonstruksi modern, kawasan tersebut dipercaya berada di titik strategis yang berkaitan dengan struktur istana Majapahit. Di dalam kompleksnya terdapat petilasan dan penanda sejarah, termasuk yang dikenal masyarakat sebagai Patok Gajah, yang sarat nilai simbolik dan spiritual.
Saat memberikan keterangan kepada wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Jumat (13/2/2026), pelestari adat dan budaya Trowulan, Gus Yudi selaku Ketua Padepokan Eyang Macan Putih, menyampaikan keprihatinannya atas beredarnya konten tersebut.
“Kami tidak melarang generasi muda berkarya di media sosial. Namun harus ada etika dan rasa hormat. Situs ini bukan panggung hiburan biasa, melainkan jejak leluhur yang harus dijaga marwahnya,” tegasnya.
![]() |
| Dok, foto: Konten TikTok di Patok Gajah Picu Polemik, Pelestari Budaya Trowulan Serukan Klarifikasi dan Etika di Situs Bersejarah. |
Pada kesempatan yang sama, Mbah Suro juga menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga kesakralan kawasan tersebut.
“Pendopo Agung ini bukan sekadar bangunan fisik. Ia simbol kebesaran Majapahit dan identitas budaya Trowulan. Kalau benar konten itu kurang pantas, maka perlu ada klarifikasi dari pembuatnya. Jangan sampai warisan sejarah hanya dijadikan latar demi sensasi,” ujarnya kepada MSRI.
Sejumlah peziarah yang ditemui di lokasi juga menyampaikan pandangan serupa. Siti Aminah (45), peziarah asal Jombang, mengaku menyayangkan jika benar ada konten yang dibuat tanpa mempertimbangkan etika tempat.
“Kami datang ke sini untuk berdoa dan mengenang sejarah. Tempat ini sakral bagi kami. Kalau ada yang membuat konten kurang pantas, tentu rasanya kurang nyaman,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Mulyono (55), peziarah dari Surabaya. Ia menilai generasi muda tetap perlu diberi ruang berekspresi, namun harus memahami konteks lokasi.
“Silakan berkarya, tapi lihat tempatnya. Ini bukan sekadar spot foto, ini situs sejarah. Harus ada batasan,” ujarnya.
Peziarah lainnya, Nur Kholis (37), berharap pengelola kawasan juga memperkuat sosialisasi terkait aturan dan tata krama di area situs.
“Mungkin perlu ada papan imbauan yang lebih jelas, supaya pengunjung paham mana yang boleh dan tidak,” katanya.
Para pelestari adat dan budaya Trowulan berharap peristiwa ini menjadi momentum edukasi publik bahwa situs bersejarah bukan ruang bebas nilai. Kebebasan berekspresi di media sosial harus tetap dibingkai dalam etika, penghormatan budaya, serta kesadaran menjaga warisan peradaban bangsa untuk generasi mendatang.
Reporter : Mbah Mul
Editor : Redaksi MSRI
dibaca


Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments