Kesucian Hati dalam Cahaya Isra' Mi’raj: Pengajian Rutin SABILUL MUNAJJAH Menghidupkan Spirit Dakwah di Bendilwungu

Kesucian Hati dalam Cahaya Isra' Mi’raj: Pengajian Rutin SABILUL MUNAJJAH Menghidupkan Spirit Dakwah di Bendilwungu
Dok, foto: Kesucian Hati dalam Cahaya Isra' Mi’raj: Pengajian Rutin SABILUL MUNAJJAH Menghidupkan Spirit Dakwah di Bendilwungu. Selasa malam, 20 Januari 2026.

MSRI, TULUNGAGUNG - Pengajian rutin Majelis Sabilul Munajjah kembali terselenggara pada Selasa malam Rabu, 20 Januari 2026, bertempat di Desa Bendilwungu RT 01 RW 06, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Dimulai pukul 19.30 WIB, majelis ilmu ini terus menunjukkan geliat dakwah yang semakin hidup, ditandai dengan bertambahnya jumlah jamaah dari waktu ke waktu.

Kegiatan diawali dengan lantunan shalawat yang dibawakan oleh grup Habsyi Al-Fattah SDN 2 Bendilwungu. Alunan shalawat tersebut menghadirkan suasana khidmat dan penuh keberkahan, mengantarkan jamaah memasuki majelis ilmu dengan hati yang tenang dan penuh kecintaan kepada Rasulullah SAW. Jamaah yang hadir didominasi oleh ibu-ibu, namun turut diikuti bapak-bapak serta masyarakat umum dari berbagai desa sekitar.

Ketua Majelis Sabilul Munajjah, H. Anwar Ahmas—yang akrab disapa Pak Kaji Nuril—menyampaikan bahwa pengajian ini bermula dari jamaah yang sangat terbatas. Namun seiring waktu, majelis tersebut berkembang dan menjadi ruang dakwah terbuka bagi masyarakat luas.

“Pada awalnya jamaah hanya sekitar sepuluh orang. Dulu sempat ada anggapan pengajian ini hanya untuk warga sekitar. Setelah dipahami bahwa majelis ini terbuka untuk umum, alhamdulillah jamaah terus bertambah, bahkan dari Desa Trenceng dan wilayah lainnya,” tuturnya.

Kesucian Hati dalam Cahaya Isra' Mi’raj: Pengajian Rutin SABILUL MUNAJJAH Menghidupkan Spirit Dakwah di Bendilwungu


Rajab dan Makna Agung Isra Mi’raj

Pengajian kali ini menghadirkan Ustadz M. Ibnu Atho’illah dengan mengangkat tema “Kesucian Hati dalam Cahaya Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW”. Tema tersebut dipilih selaras dengan bulan Rajab, salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam dan menjadi momentum peristiwa agung Isra Mi’raj Rasulullah SAW.

Dalam tausiyahnya, Ustadz M. Ibnu Atho’illah menegaskan bahwa ilmu agama tidak cukup hanya didengar dan dipahami di majelis, melainkan harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pengamalan tersebut, ilmu akan menjadi cahaya, memberi manfaat nyata, serta diterima sebagai amal yang diridhai Allah SWT.

Sebagai landasan utama, ia mengutip firman Allah SWT:

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isrā’: 1).

Ustadz menjelaskan bahwa perjalanan Isra Mi’raj Rasulullah SAW dimulai dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, dengan jarak sekitar 1.100 kilometer, lalu dilanjutkan hingga Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah SAW melewati wilayah Syam—yang meliputi Suriah, Lebanon, dan Palestina—serta menyebut Baitul Lahm (Bethlehem) sebagai tempat kelahiran Nabi Isa AS.

Kesucian Hati dalam Cahaya Isra' Mi’raj: Pengajian Rutin SABILUL MUNAJJAH Menghidupkan Spirit Dakwah di Bendilwungu


Kesucian Hati dalam Perspektif Tasawuf

Dalam pembahasan tasawuf, Ustadz M. Ibnu Atho’illah menguraikan pentingnya menjaga kesucian hati sebagai inti perjalanan spiritual seorang hamba. 

Ia merujuk pada berbagai kitab tasawuf dan diniyah yang lazim dipelajari di majelis keilmuan, termasuk penjelasan mengenai tabarruk kepada orang-orang shalih sebagai bagian dari tradisi keilmuan Islam yang diwariskan para ulama.

Penguatan disampaikan melalui firman Allah SWT:

“Barang siapa membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat balasannya.” (QS. Al-An‘ām: 160).

Menurutnya, menuntut ilmu agama merupakan ibadah yang sangat mulia. Apabila suatu wilayah kehilangan majelis ilmu dan semangat belajar agama, maka nilai-nilai Islam bisa memudar, meskipun Islam sebagai agama tetap terjaga hingga akhir zaman.

Empat Perkara yang Memudarkan Islam

Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula nasihat yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tentang empat perkara yang dapat menyebabkan Islam memudar di suatu wilayah, yakni:

1. Tidak mengamalkan ilmu agama yang telah diketahui

2. Mengamalkan sesuatu tanpa didasari ilmu

3. Enggan menuntut dan mempelajari ilmu agama

4. Menghalangi atau memprovokasi orang lain agar tidak menuntut ilmu

Nasihat ini disampaikan sebagai bahan muhasabah bersama agar majelis ilmu senantiasa dijaga, dirawat, dan dilanjutkan secara istiqamah.

Kisah Mashitah dan Keteguhan Tauhid

Ustadz M. Ibnu Atho’illah juga menyampaikan kisah Mashitah binti Fir‘aun, seorang wanita shalihah yang tetap teguh mempertahankan tauhid meskipun harus kehilangan anak-anaknya. Kisah keteguhan iman ini dikenal dalam riwayat hadits, di mana Rasulullah SAW mencium bau harum Mashitah dan anak-anaknya saat peristiwa Isra Mi’raj, sebagai simbol kemuliaan pengorbanan dalam mempertahankan keimanan.

Penutup

Pengajian rutin Sabilul Munajjah ditutup dengan doa bersama pada pukul 21.00 WIB. Ustadz berharap majelis ini terus menjadi wasilah dakwah, sarana pembelajaran ilmu agama, penyucian hati, serta penguat ukhuwah Islamiyah bagi masyarakat Sumbergempol, Tulungagung, dan sekitarnya.

Majelis ilmu ini diharapkan tetap istiqamah menjadi lentera cahaya iman, sebagaimana spirit Isra Mi’raj yang mengajarkan kedekatan hamba dengan Rabb-nya melalui kesucian hati dan ketaatan.

Reporter : Firnanda

Editor : Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama