Asal Usul Kota Surabaya: Dari Legenda Pesisir hingga Kota Perlawanan

Asal Usul Kota Surabaya: Dari Legenda Pesisir hingga Kota Perlawanan
Dok, foto ilustrasi

MSRI, SURABAYA – Kota Surabaya tumbuh dari persilangan legenda, sejarah pelabuhan, dan watak perlawanan masyarakat pesisir. Asal-usulnya tidak hanya hidup dalam cerita rakyat, tetapi juga tercatat dalam arsip sejarah dan kajian akademik para sejarawan lokal Surabaya.

Legenda Sura dan Baya menjadi narasi paling populer tentang lahirnya nama Surabaya. Pertarungan antara ikan hiu dan buaya dimaknai sebagai simbol keberanian menghadapi ancaman. Sejarawan budaya Universitas Airlangga, Prof. Dr. Djoko Suryo, menilai legenda tersebut merepresentasikan karakter sosial masyarakat pesisir.

“Legenda kota-kota pesisir seperti Surabaya selalu berkaitan dengan konflik, keberanian, dan daya hidup masyarakatnya,” tulis Djoko Suryo dalam kajian sejarah urban Jawa Timur.

Dari sisi sejarah tertulis, nama Surabhaya tercantum dalam Prasasti Trowulan I tahun 1358 M. Hal ini menunjukkan Surabaya telah dikenal sejak masa Majapahit. Sejarawan Universitas Airlangga, Prof. Dr. Bambang Purwanto, menyebut Surabaya sebagai simpul penting dalam jaringan ekonomi Majapahit.

“Surabaya berfungsi sebagai wilayah penyangga perdagangan dan distribusi hasil bumi dari pedalaman Jawa Timur ke jalur maritim,” ungkapnya dalam studi sejarah sosial kota-kota Jawa.

Arsip Pemerintah Kota Surabaya mencatat kawasan muara Sungai Brantas sebagai pusat permukiman dan perdagangan sejak masa lampau. Sejarawan lokal Surabaya dan pemerhati arsip kota, Drs. H. Widodo Suryandono, menegaskan bahwa faktor geografis sangat menentukan pertumbuhan kota.

“Surabaya tumbuh dari pelabuhan. Watak masyarakatnya dibentuk oleh aktivitas niaga, perjumpaan budaya, dan dinamika kekuasaan,” tulisnya dalam dokumentasi sejarah Kota Surabaya.

Karakter keras, egaliter, dan berani yang dikenal sebagai budaya arek Surabaya kemudian menguat seiring perjalanan sejarah. Sejarawan Unair, Dr. Agus Suwignyo, menilai budaya arek sebagai hasil proses sosial yang panjang.

“Budaya arek bukan muncul tiba-tiba, tetapi dibentuk oleh tradisi keterbukaan dan perlawanan sejak era kerajaan hingga kolonial,” jelasnya.

Watak keras, egaliter, dan berani yang dikenal sebagai budaya arek Surabaya masih terasa hingga kini. Hal itu diakui warga Surabaya, Slamet (54), warga kawasan Tambak Sari.

“Sejak kecil kami diajari kalau orang Surabaya itu harus berani dan jujur. Itu sudah seperti warisan dari cerita Sura dan Baya,” ujarnya.

Pendapat serupa disampaikan Yoyok Prasetyo (27), pemuda asal Rungkut.

“Buat kami generasi muda, sejarah Surabaya bukan cuma pelajaran sekolah. Peristiwa 10 November dan kisah asal-usul kota itu membentuk mental berani bicara dan berani melawan ketidakadilan,” katanya.

Tak hanya warga Surabaya, masyarakat Jawa Timur juga melihat Surabaya sebagai simbol perlawanan. Ajeng (45), warga Malang, menilai Surabaya sebagai representasi keberanian wong Jatim.

“Surabaya itu wajah Jawa Timur. Kalau bicara keberanian dan perjuangan, orang pasti ingat Surabaya,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Roni Yuwantoko (52), warga Tulungagung.

“Sejarah Surabaya mengajarkan bahwa keberanian itu lahir dari kesadaran rakyat. Itu yang membuat kota ini dihormati,” ucapnya.

Menanggapi pentingnya memahami asal-usul Surabaya, Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono, akrab disapa Cak Bram, menegaskan bahwa sejarah kota tidak boleh dipisahkan dari kesadaran publik.

“Sejarah Surabaya bukan hanya milik arsip atau akademisi, tetapi harus menjadi pengetahuan hidup bagi masyarakat. Dari legenda hingga perlawanan 10 November, Surabaya mengajarkan keberanian, keberpihakan, dan keteguhan sikap,” ujar Cak Bram.

Menurut Cak Bram, pemahaman terhadap asal-usul Surabaya penting untuk menjaga identitas kota di tengah modernisasi.

“Jika generasi hari ini lupa dari mana Surabaya berasal, maka nilai keberanian dan keberpihakan pada rakyat kecil akan perlahan terkikis,” tegasnya.

Watak historis tersebut mencapai puncaknya pada peristiwa 10 November 1945, ketika rakyat Surabaya memilih melawan pasukan Sekutu. Arsip Pemkot Surabaya mencatat peristiwa ini sebagai tonggak yang mengukuhkan Surabaya sebagai Kota Pahlawan, simbol keberanian kolektif bangsa Indonesia.

Penutup

Dari legenda Sura dan Baya, catatan Majapahit, arsip Pemkot, kajian sejarawan Unair, hingga pandangan redaksi MSRI, Surabaya tumbuh sebagai kota yang lahir dari keberanian. Asal-usulnya bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan fondasi nilai yang terus hidup dan relevan bagi perjalanan kota dan warganya hari ini.

{Redaksi MSRI}

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama