Ketika Stiker dan Like Menggantikan Jawaban, Etika Komunikasi Patut Dipertanyakan

Ketika Stiker dan Like Menggantikan Jawaban, Etika Komunikasi Patut Dipertanyakan

MSRI, SURABAYA - Di era komunikasi digital yang semakin berkembang, kemudahan bertukar pesan melalui WhatsApp maupun berbagai platform media sosial seharusnya membuat hubungan antarsesama semakin dekat. Namun, ada fenomena sederhana yang menarik untuk menjadi bahan renungan bersama: ketika seseorang menyampaikan pesan, mengajak berdiskusi, atau sekadar membuka percakapan, respons yang diterima justru hanya berupa stiker, tanda suka (like), emoji, atau reaksi singkat tanpa penjelasan.

Fenomena ini dapat terjadi dalam berbagai hubungan, baik dengan teman, saudara, kerabat, rekan kerja, maupun dalam komunikasi antara pimpinan dan bawahan.

Tentu, setiap orang memiliki kesibukan dan prioritas masing-masing. Tidak semua pesan harus dibalas panjang lebar. Ada kalanya seseorang memang belum memiliki kesempatan untuk memberikan jawaban secara langsung. Hal tersebut sangat bisa dimaklumi.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika respons berupa stiker atau tanda suka terus-menerus dijadikan pengganti jawaban, terutama terhadap pesan yang membutuhkan kepastian, penjelasan, koordinasi, atau tindak lanjut.

Sebab, memberikan respons bukan semata-mata persoalan membalas pesan, melainkan juga bagian dari etika dan penghargaan terhadap orang lain.

Bukankah satu atau dua kata sederhana seperti "baik", "siap", "terima kasih", atau "nanti saya kabari" sudah cukup untuk menunjukkan bahwa pesan tersebut telah diterima dan dipahami?

Dalam kehidupan sosial, komunikasi tidak hanya membutuhkan kecanggihan teknologi, tetapi juga kedewasaan sikap. Seseorang yang menghubungi kita belum tentu sedang mencari perhatian. Bisa jadi ia membutuhkan informasi, menyampaikan sesuatu yang penting, atau sekadar ingin menjaga hubungan baik.

Begitu pula dalam lingkungan organisasi maupun pekerjaan. Jabatan dan kedudukan seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan prinsip saling menghormati. Pimpinan maupun bawahan, senior maupun junior, memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun komunikasi yang sehat dan profesional.

Perlu dipahami, tidak membalas pesan bukan selalu berarti tidak menghargai. Namun, membiasakan diri memberikan respons yang jelas merupakan bentuk kedewasaan dalam berkomunikasi.

Stiker boleh menjadi hiburan, emoji boleh menjadi ekspresi, dan tanda suka boleh menjadi bentuk apresiasi. Akan tetapi, ketiganya tidak selalu dapat menggantikan jawaban yang sesungguhnya dibutuhkan oleh seseorang.

Jangan sampai kita begitu mudah memberikan reaksi melalui layar ponsel, tetapi justru lupa memberikan penghargaan sederhana kepada orang yang sedang berusaha menjalin komunikasi dengan kita.

Pada akhirnya, kualitas seseorang dalam berkomunikasi tidak diukur dari seberapa cepat ia membaca pesan, seberapa banyak stiker yang dikirimkan, atau seberapa aktif ia menggunakan media sosial. Kualitas itu juga tercermin dari kesantunan, kepedulian, dan kemampuannya menghargai orang lain.

Teknologi boleh semakin canggih, tetapi adab jangan sampai semakin tertinggal. Sebab, satu jawaban sederhana terkadang jauh lebih berharga daripada seribu reaksi tanpa makna.

Salam santun dalam berkomunikasi.

Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI)

"Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama