Gus Sukhoiri Teguhkan Makna Pembaretan Akbar Nasional PWI Laskar Sabilillah di Trowulan: Menempa Jiwa Kesatria, Memperkokoh Persatuan, dan Mengabdikan Diri kepada Rakyat

Gus Sukhoiri Teguhkan Makna Pembaretan Akbar Nasional PWI Laskar Sabilillah di Trowulan: Menempa Jiwa Kesatria, Memperkokoh Persatuan, dan Mengabdikan Diri kepada Rakyat

MSRI, MOJOKERTO - Sebuah baret bukan sekadar penutup kepala. Di baliknya tersimpan makna tentang kehormatan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesediaan mengabdikan diri bagi kepentingan yang lebih besar. Nilai-nilai itulah yang hendak diteguhkan dalam Pembaretan Akbar Nasional Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS) di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Dari tanah yang menyimpan jejak kejayaan Majapahit ini, semangat persaudaraan dan kecintaan terhadap sejarah Nusantara diharapkan tumbuh menjadi kekuatan moral yang menyatukan langkah, memperkokoh integritas, serta meneguhkan komitmen pengabdian kepada agama, bangsa, negara, dan masyarakat.

Panglima Laskar Sabilillah Wilayah Jawa Timur, Muhammad Sukhoiri, yang akrab disapa Gus Sukhoiri, menyampaikan salam persaudaraan, salam perjuangan, dan penghormatan kepada seluruh calon peserta pembaretan, jajaran pengurus, serta anggota PWI Laskar Sabilillah dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke.

Dengan penuh rasa hormat dan kebanggaan, Gus Sukhoiri menyampaikan ucapan selamat datang atau sugeng rawuh kepada seluruh keluarga besar PWI LS yang akan berkumpul di Trowulan. Baginya, pertemuan berskala nasional tersebut bukan hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi, melainkan juga momentum untuk memperkuat persatuan, menyamakan visi perjuangan, dan membangun karakter anggota yang berintegritas.

“Pembaretan ini bukan sekadar seremoni, bukan pula hanya tentang mengenakan baret sebagai simbol kebanggaan. Lebih dari itu, pembaretan merupakan momentum untuk menempa jiwa kesatria, memperkuat integritas, membangun solidaritas, dan meneguhkan komitmen pengabdian yang harus dibuktikan melalui tindakan nyata,” demikian pesan yang ditekankan dalam sambutannya.

Menurut Gus Sukhoiri, keberanian sejati tidak cukup ditunjukkan melalui kata-kata lantang atau sikap yang terlihat tegas. Keberanian harus tercermin dalam kejujuran, kedisiplinan, keteguhan memegang prinsip, serta kesediaan mempertanggungjawabkan setiap tindakan. Seorang laskar harus mampu menempatkan kehormatan organisasi di atas kepentingan pribadi, menjaga persaudaraan, menghormati sesama, dan memperjuangkan keadilan dengan cara-cara yang bermartabat.

Ia menegaskan bahwa baret yang dikenakan setiap anggota hendaknya menjadi pengingat atas amanah dan tanggung jawab moral yang melekat pada dirinya. Identitas organisasi, menurut pesan tersebut, tidak semestinya berhenti pada seragam, atribut, atau jabatan, tetapi harus diwujudkan melalui perilaku yang santun, sikap yang disiplin, serta keberpihakan kepada nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.

Dalam konteks perjuangan menjaga warisan leluhur, Gus Sukhoiri juga menekankan pentingnya komitmen terhadap pelestarian sejarah, penghormatan terhadap ulama dan leluhur, serta upaya mengawal kebenaran sejarah. Berbagai dugaan pembelokan sejarah, pemalsuan dokumen, maupun penyalahgunaan situs bersejarah dan makam yang dihormati masyarakat, apabila ditemukan, harus ditangani secara serius melalui verifikasi, bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, dan mekanisme hukum yang berlaku.

Baginya, perjuangan yang bermartabat tidak dibangun di atas kebencian, provokasi, ataupun tindakan sewenang-wenang. Sebaliknya, perjuangan harus bertumpu pada ilmu, keteguhan prinsip, keberanian menyuarakan kebenaran, serta penghormatan terhadap hukum dan martabat manusia.

“Berani karena benar, tegas tanpa bertindak sewenang-wenang, kritis tanpa kehilangan adab, dan teguh dalam keyakinan tanpa mengabaikan hukum. Itulah karakter yang harus menjadi pegangan setiap anggota Laskar Sabilillah,” menjadi pesan penting yang selaras dengan semangat pembaretan.

Karena itu, Gus Sukhoiri mengingatkan seluruh calon peserta agar mempersiapkan diri secara menyeluruh, baik fisik maupun mental, meluruskan niat, memperteguh keimanan, serta menjaga kesehatan dan kedisiplinan selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Ia berharap setiap peserta datang bukan sekadar untuk mengikuti prosesi, melainkan dengan kesadaran penuh bahwa keanggotaan dalam organisasi membawa tanggung jawab terhadap sesama dan masyarakat.

Semangat pengabdian, lanjut pesan tersebut, harus lebih besar daripada keinginan untuk memperoleh pengakuan. Keberanian harus berjalan bersama kebijaksanaan, ketegasan harus disertai akhlak, dan loyalitas organisasi harus tetap berada dalam koridor hukum serta nilai-nilai kebangsaan.

Gus Sukhoiri Siapkan Konsumsi Gratis bagi Peserta

Di tengah pesan mengenai disiplin dan tanggung jawab perjuangan, Gus Sukhoiri turut menyampaikan kabar gembira bagi seluruh peserta Pembaretan Akbar Nasional PWI Laskar Sabilillah di Mojokerto. Sebagai wujud khidmah, persaudaraan, dan kecintaan kepada keluarga besar organisasi, ia menyatakan kesediaannya menyediakan konsumsi makanan secara gratis bagi seluruh peserta selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Komitmen tersebut disampaikan dengan mengharap keberkahan Allah SWT serta meneladani nilai-nilai pengabdian dan kepedulian yang dikaitkan dengan pesan perjuangan Sunan Drajat Lamongan. Bagi Gus Sukhoiri, memuliakan tamu, mempererat persaudaraan, dan membantu memenuhi kebutuhan sesama bukan sekadar pelengkap kegiatan, melainkan bagian dari pengabdian yang harus diwujudkan secara nyata.

Ia berharap seluruh peserta dapat memusatkan perhatian pada kesiapan diri, menjaga kesehatan, mengikuti arahan panitia, dan memelihara suasana persaudaraan selama kegiatan. Sementara itu, penyediaan konsumsi menjadi bagian dari ikhtiar untuk menyambut dan memuliakan saudara-saudara seperjuangan yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kekuatan organisasi tidak hanya diukur dari besarnya jumlah anggota atau luasnya jangkauan wilayah, tetapi juga dari kepedulian antarsesama, kemampuan membangun kebersamaan, dan kesediaan berbagi tanggung jawab.

Perbedaan daerah, latar belakang, maupun kedudukan tidak seharusnya menjadi sekat yang melemahkan persatuan. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi modal untuk memperkuat solidaritas dan memperluas manfaat perjuangan bagi masyarakat.

Meneguhkan Kesatriaan, Menguatkan Pengabdian

Lebih jauh, Gus Sukhoiri menegaskan bahwa kehormatan seorang laskar tidak ditentukan oleh kerasnya suara, tingginya jabatan, ataupun gagahnya seragam. Kehormatan sejati lahir dari kejujuran, keberanian membela kebenaran, kesetiaan terhadap amanah, serta kesediaan untuk hadir dan bekerja ketika masyarakat membutuhkan bantuan dan pembelaan.

Atas dasar itu, Pembaretan Akbar Nasional PWI Laskar Sabilillah diharapkan menjadi titik penguatan karakter bagi seluruh peserta. Setiap anggota dituntut tidak hanya mampu mengucapkan ikrar, tetapi juga konsisten menjalankan tanggung jawab organisasi, menghormati perbedaan, menjaga persatuan, dan memberikan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat.

Dari Trowulan, semangat persaudaraan diharapkan menjangkau seluruh Nusantara. Dari Jawa Timur, komitmen pengabdian diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh anggota PWI Laskar Sabilillah untuk terus memperkuat integritas, menjaga kehormatan perjuangan, dan menempatkan kepentingan masyarakat sebagai bagian penting dari tanggung jawab organisasi.

Momentum pembaretan ini pada akhirnya bukan semata-mata tentang siapa yang mengenakan baret, melainkan tentang nilai apa yang dibawa setelah baret itu dikenakan. Sebab, simbol kehormatan hanya akan bermakna apabila sejalan dengan perilaku, tanggung jawab, dan pengabdian yang nyata.

Dengan semangat persatuan dan keteguhan prinsip, Gus Sukhoiri mengajak seluruh keluarga besar PWI Laskar Sabilillah untuk menyatukan hati, merapatkan barisan, serta memperkuat komitmen perjuangan yang berlandaskan akhlak, ilmu, integritas, dan kepatuhan terhadap hukum.

“Bangkit dalam persatuan, berkobar dalam semangat pengabdian, berjuang dengan integritas, dan berkorban dengan keikhlasan.”

Seruan tersebut menjadi penegasan bahwa perjuangan yang luhur harus senantiasa disertai niat yang baik, cara yang benar, dan tujuan yang membawa kemaslahatan bagi sesama.

Yaa Jabbaru, Yaa Qahharu!

Gus Sukhoiri berharap Allah SWT senantiasa melimpahkan kekuatan, keselamatan, petunjuk, dan keberkahan kepada seluruh keluarga besar Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah. Ia juga berharap setiap langkah organisasi senantiasa membawa manfaat bagi masyarakat, memperkuat keadilan, serta menjaga kehormatan agama, bangsa, dan tanah air.

Selamat datang di tanah bersejarah Trowulan, Mojokerto. Satukan hati, rapatkan barisan, teguhkan pengabdian.

Muhammad Sukhoiri (Gus Sukhoiri)
Panglima Laskar Sabilillah Wilayah Jawa Timur
Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS).


Reporter: Riawan
Kaperwil MSRI Jawa Timur
MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama