MSRI, LOMBOK TIMUR - Di balik gemerlap klaim kesiapan layanan Catheterization Laboratory (Cathlab) RSUD dr. R. Soedjono Selong yang disebut telah mencapai 98 persen, tersimpan sejumlah pertanyaan yang tidak boleh diabaikan. Siapa sesungguhnya yang merintis dari awal? Siapa yang berjibaku menyiapkan seluruh kebutuhan teknis dan pelayanan? Dan mengapa ketika capaian itu mulai dipublikasikan, kontribusi pejabat yang lebih dahulu meletakkan fondasinya justru dipertanyakan keberadaannya?
Pergantian Plt. Direktur dari dr. Anjasmoro, Sp.Rad., kepada dr. H. Lalu Ofan Hendardi, M.Kes., pada 14 Oktober 2026, terjadi ketika proses persiapan Cathlab telah berjalan sejak 7 September 2026. Selang beberapa hari setelah pergantian tersebut, angka kesiapan 98 persen diumumkan dan agenda pendampingan berlangsung di bawah kepemimpinan pejabat yang baru.
Rangkaian waktu ini memunculkan tanda tanya besar mengenai kesinambungan kerja, pengakuan terhadap kontribusi pendahulu, hingga transparansi penyampaian keberhasilan institusi kepada publik.
Sebab, membangun sebuah layanan kesehatan membutuhkan proses, tenaga, waktu, dan kerja kolektif. Namun, ketika hasilnya mulai menjadi sorotan, jangan sampai mereka yang lebih dahulu membangun justru tersisih, sementara mereka yang datang belakangan menjadi figur utama dalam panggung keberhasilan.
Di sinilah persoalan kepemimpinan diuji. Apakah keberhasilan Cathlab benar-benar diposisikan sebagai prestasi institusi yang dibangun bersama, atau justru berpotensi menjadi panggung pencitraan seorang pejabat?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika dr. Ofan tidak hanya mengemban tugas sebagai Plt. Direktur RSUD dr. R. Soedjono Selong tipe B, tetapi juga masih menjabat sebagai Direktur definitif RSUD Lombok Timur tipe D yang memiliki sejumlah pekerjaan rumah dalam tata kelola dan pelayanan.
MSRI tidak sedang mempersoalkan pergantian jabatan maupun kemajuan layanan Cathlab. Yang menjadi sorotan adalah transparansi proses, penghargaan terhadap kontribusi, dan tanggung jawab kepemimpinan. Sebab, rumah sakit bukan panggung untuk membesarkan nama pejabat, melainkan tempat masyarakat menggantungkan harapan atas keselamatan dan pelayanan kesehatan.
Jejak Persiapan Cathlab: Siapa Merintis, Siapa Melanjutkan?
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tim Investigasi MSRI, persiapan layanan Cathlab telah dimulai sekitar 7 September 2026 di bawah koordinasi Plt. Direktur saat itu, dr. Anjasmoro, Sp.Rad.
Dalam perkembangannya, pendampingan dari RSUD Provinsi NTB yang semula dijadwalkan pada 10–11 Oktober 2026 harus diundur menjadi 23–24 Oktober 2026. Penjadwalan ulang tersebut berkaitan dengan sejumlah kebutuhan yang belum sepenuhnya terpenuhi, antara lain kesiapan pasien, peralatan kesehatan, bahan medis, serta fasilitas penunjang lainnya. Pemantapan koordinasi dengan BPJS Kesehatan juga menjadi bagian dari tahapan persiapan.
Namun, pada 14 Oktober 2026, posisi Plt. Direktur beralih dari dr. Anjasmoro kepada dr. H. Lalu Ofan Hendardi, M.Kes.
Selanjutnya, dalam agenda monitoring dan evaluasi pada 20 Oktober 2026, tingkat kesiapan Cathlab disebut telah mencapai 98 persen. Ketika pendampingan berlangsung pada 23 Oktober 2026, dr. Ofan tampil dalam kapasitasnya sebagai Plt. Direktur RSUD dr. R. Soedjono Selong.
Jejak Kontribusi Pendahulu Jangan Diabaikan
Di balik capaian tersebut, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana kontribusi pejabat sebelumnya tetap diakui dalam proses pembangunan layanan Cathlab.
Berdasarkan informasi yang diterima MSRI, peran dr. Anjasmoro dalam mengawali dan mengoordinasikan persiapan layanan tersebut dinilai belum memperoleh ruang pengakuan yang proporsional, baik dalam sambutan maupun penyampaian informasi kepada publik. Pelibatan yang bersangkutan dalam agenda pendampingan juga disebut belum maksimal.
Jika informasi tersebut benar, kondisi ini patut menjadi bahan evaluasi. Sebab, keberhasilan sebuah institusi kesehatan tidak lahir secara instan dan bukan hasil kerja satu orang semata.
Pergantian kepemimpinan seharusnya menjadi momentum untuk melanjutkan pekerjaan yang telah dirintis, bukan justru membuat rekam jejak kontribusi sebelumnya seolah kehilangan tempat.
Memang, tidak disebutkannya nama seorang pejabat pendahulu dalam sambutan bukan dengan sendirinya membuktikan adanya praktik pencitraan. Namun, ketika muncul dugaan minimnya pelibatan dan pengakuan terhadap pihak yang lebih dahulu bekerja, transparansi menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar.
Publik berhak mempertanyakan apakah komunikasi keberhasilan Cathlab telah mencerminkan kerja kolektif institusi atau justru lebih menonjolkan figur pemimpin yang baru menjabat.
Rangkap Jabatan dan Ujian Fokus Kepemimpinan
Sorotan berikutnya tertuju pada posisi dr. Ofan Hendardi yang diketahui masih menjabat sebagai Direktur definitif RSUD Lombok Timur tipe D, sekaligus mengemban amanah sebagai Plt. Direktur RSUD dr. R. Soedjono Selong tipe B.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar mengenai pembagian waktu, konsentrasi, pengawasan, serta efektivitas pelaksanaan tanggung jawab di dua institusi pelayanan kesehatan dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda.
Terlebih, RSUD Lombok Timur yang berada di bawah kepemimpinan definitif dr. Ofan juga disebut tengah menghadapi sejumlah persoalan yang memerlukan perhatian serius, mulai dari tata kelola manajemen, keluhan pelayanan, hingga sorotan atas kasus kematian pasien yang dikaitkan dengan dugaan keterlambatan rujukan.
Persoalan tersebut tentu membutuhkan penjelasan dan pemeriksaan berdasarkan fakta, bukan kesimpulan sepihak. Namun, keberadaannya semakin memperkuat pentingnya evaluasi terhadap efektivitas rangkap penugasan tersebut.
Pertanyaan publik menjadi sederhana tetapi mendasar: bagaimana dr. Ofan memastikan kedua rumah sakit tetap mendapatkan perhatian kepemimpinan secara optimal?
Penugasan sebagai Plt. Direktur tidak boleh berhenti pada pengisian jabatan dan kehadiran dalam kegiatan seremonial. Ada tanggung jawab besar yang harus dijalankan, terutama memastikan pelayanan kesehatan, pengawasan manajemen, dan keselamatan pasien tetap menjadi prioritas.
Jangan sampai keberhasilan yang ditampilkan di satu institusi justru menutupi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan di institusi lainnya.
Angka 98 Persen Harus Dapat Dipertanggungjawabkan
Di sisi lain, klaim kesiapan Cathlab yang mencapai 98 persen perlu dijelaskan secara objektif dan terukur.
Angka tersebut bukan sekadar statistik yang layak ditampilkan dalam pemberitaan. Publik perlu mengetahui indikator apa saja yang menjadi dasar penilaiannya.
Apakah angka 98 persen tersebut telah mencakup kelengkapan dan kelayakan peralatan medis, kesiapan ruang pelayanan, kompetensi tenaga dokter dan tenaga kesehatan, ketersediaan bahan medis, standar keselamatan pasien, hingga kesiapan administrasi dan pembiayaan pelayanan?
Lebih penting lagi, apakah layanan Cathlab telah memenuhi seluruh persyaratan untuk beroperasi secara aman dan berkelanjutan?
Sebab, kesiapan administratif maupun fisik tidak otomatis identik dengan kesiapan pelayanan klinis secara menyeluruh.
Cathlab merupakan layanan medis yang membutuhkan standar tinggi, koordinasi lintas profesi, fasilitas memadai, serta jaminan keselamatan pasien. Karena itu, capaian 98 persen harus disertai indikator yang jelas, data pendukung, dan penjelasan yang dapat diuji.
Keberhasilan layanan kesehatan tidak semestinya diukur dari angka yang diumumkan atau seremoni yang diselenggarakan, melainkan dari kesiapan nyata ketika masyarakat membutuhkan pelayanan.
MSRI Minta Klarifikasi dan Transparansi
Atas sejumlah persoalan tersebut, MSRI memandang perlu adanya penjelasan terbuka dari dr. H. Lalu Ofan Hendardi, M.Kes., terkait beberapa hal mendasar:
- Bagaimana kronologi dan pembagian kontribusi dalam proses persiapan Cathlab sejak 7 September 2026 hingga pendampingan pada 23–24 Oktober 2026?
- Apa dasar penilaian sehingga tingkat kesiapan Cathlab dinyatakan mencapai 98 persen, termasuk indikator dan dokumen pendukungnya?
- Bagaimana bentuk pelibatan dr. Anjasmoro sebagai pejabat yang sebelumnya mengoordinasikan persiapan Cathlab, mengingat yang bersangkutan masih menjabat sebagai Wakil Direktur definitif?
- Bagaimana mekanisme pembagian waktu, pengawasan, dan tanggung jawab dr. Ofan dalam menjalankan dua posisi kepemimpinan di rumah sakit yang berbeda?
- Bagaimana perkembangan penanganan berbagai persoalan manajemen dan pelayanan di RSUD Lombok Timur yang menjadi tanggung jawab definitifnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk menghambat pengembangan layanan kesehatan. Sebaliknya, hal ini merupakan bagian dari kontrol sosial agar setiap program yang menggunakan sumber daya publik berjalan secara transparan, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kepemimpinan Bukan Soal Siapa yang Tampil, Melainkan Siapa yang Bertanggung Jawab
Pada akhirnya, jabatan boleh berganti, tetapi sejarah kerja dan kontribusi tidak semestinya diabaikan.
Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu tampil di hadapan publik ketika sebuah program mencapai kemajuan. Ia juga harus memiliki keberanian mengakui kontribusi pendahulu, menyelesaikan persoalan yang diwariskan, serta mempertanggungjawabkan setiap keputusan dan capaian di bawah kewenangannya.
Jangan sampai proses panjang yang dirintis bersama justru kehilangan pengakuan ketika keberhasilan mulai mendapat sorotan.
Jangan pula angka kesiapan dan seremoni menjadi ukuran tunggal keberhasilan, sementara persoalan mendasar pelayanan kesehatan masih menunggu penyelesaian.
MSRI menegaskan, rumah sakit bukan panggung pencitraan pejabat. Rumah sakit adalah institusi pelayanan publik yang menyangkut keselamatan, harapan, bahkan nyawa manusia.
Masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar menonjol dalam seremoni dan pemberitaan. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu bekerja, menjaga kesinambungan program, menghargai kontribusi kolektif, membenahi persoalan, serta memastikan pelayanan kesehatan benar-benar dirasakan manfaatnya.
Sebab, ukuran tertinggi keberhasilan seorang pemimpin bukan seberapa besar sorotan tertuju kepadanya, melainkan seberapa besar tanggung jawab yang ditunaikan dan seberapa nyata manfaat yang diterima masyarakat.
MSRI — Perspektif • Akurat • Terpercaya
dibaca


Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments