MSRI, LOMBOK TIMUR - Kematian Muhamad Abdul Majid, bayi berusia empat bulan asal Tanjung Teros, Kecamatan Labuhan Haji, yang meninggal pada Jumat (9/10/2026), menyisakan duka mendalam bagi keluarga sekaligus memunculkan pertanyaan publik mengenai pelayanan di RSUD Lombok Timur (RSLT).
Dalam beberapa hari terakhir, kasus tersebut menjadi perbincangan di media sosial, khususnya TikTok. Sejumlah warganet menyampaikan pengalaman mereka saat memperoleh pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut. Beragam komentar itu memunculkan desakan agar manajemen melakukan evaluasi terhadap mutu pelayanan, komunikasi tenaga kesehatan, serta mekanisme pemantauan kondisi pasien dan proses rujukan.
Meski demikian, komentar di media sosial tidak serta-merta membuktikan adanya kelalaian medis. Kronologi perawatan bayi, keputusan rujukan, dan penyebab kematian tetap perlu ditelaah berdasarkan rekam medis, keterangan tenaga kesehatan yang menangani, serta penjelasan resmi pihak rumah sakit.
Keluhan Warganet Mengemuka, Pengalaman Pasien Perlu Diverifikasi
Salah satu komentar datang dari akun TikTok @sweeetttcandyy, yang menceritakan pengalaman keluarganya saat menjalani rawat inap di RSLT.
“Dulu ibuku sempet ranap di sana, trs perawatnya judes dan lelet. Ibuku belum sembuh tapi udah disuruh pulang. Aku inget banget itu hari Minggu, gak ada dokter yg periksa, tiba-tiba disuruh pulang. Besoknya hari Senin ibuku kambuh lagi dan aku bawa ke RS Soedjono. Sampai sekarang, aku gak mau lagi kembali ke RS Lotim,” tulis akun tersebut.
Keluhan serupa disampaikan akun @Mama senio&khevin, yang mengaku mengalami keterlambatan penanganan ketika hendak melahirkan.
“Saya mau melahirkan dari jam 6 sampai jam 1 baru ada penanganan, dipindah ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Masbagik. Penanganannya lelet sekali,” tulisnya.
Sementara itu, akun @Jabink menceritakan pengalaman keluarganya mengenai seorang sepupu yang masih duduk di kelas I sekolah dasar dan meninggal setelah mengalami muntah-muntah serta diare berat.
“Dulu sepupuku kelas 1 SD muntah-muntah dan berak sangat parah, cuma sehari nyawanya tidak tertolong. Perhatikan kalau anak muntah-muntah dan BAB itu sangat serius,” tulisnya.
Adapun akun @kaela494 mempertanyakan lokasi rumah sakit yang dimaksud sekaligus menyampaikan tudingan mengenai sikap tenaga kesehatan dan dugaan permintaan pembayaran sebelum pelayanan diberikan.
“Kalau memang iya, bukan cuma ini aja problemnya. Rumah sakit ini terkenal nakesnya yang judes-judes dan minta bayaran dulu baru dilayani. Banyak banget yang ngeluh,” tulis akun tersebut.
Seluruh pernyataan tersebut merupakan pengalaman dan klaim yang disampaikan masing-masing pemilik akun. Kebenarannya belum dapat dipastikan secara independen. Karena itu, diperlukan klarifikasi dari pihak terkait agar persoalan tidak berhenti pada silang pendapat di media sosial.
Namun, berbagai keluhan tersebut patut menjadi perhatian manajemen, terutama dalam memastikan pelayanan yang responsif, komunikasi yang santun, dan mekanisme pengaduan pasien yang berjalan efektif.
Ibu Korban Sampaikan Duka dan Kekecewaan
Di tengah ramainya perbincangan, Velia Sagita Lestari, ibu almarhum Muhamad Abdul Majid, turut menyampaikan perasaannya melalui kolom komentar media sosial.
“Assalamualaikum, saya dari keluarga bayi sekaligus saya ibunya sangat terpukul atas kepergian anak saya satu-satunya. Saya sangat kecewa,” tulisnya.
Ungkapan tersebut menggambarkan kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Di balik berbagai komentar dan perdebatan publik, terdapat keluarga yang membutuhkan perhatian, empati, serta penjelasan yang terang mengenai proses penanganan medis yang dijalani buah hatinya.
Bagi keluarga, kejelasan kronologi menjadi hal penting untuk memahami apa yang terjadi sejak pasien pertama kali mendapatkan perawatan hingga akhirnya dirujuk ke rumah sakit lain.
Kronologi Perawatan Menjadi Perhatian
Berdasarkan informasi awal yang tersedia, Muhamad Abdul Majid masuk RSLT pada Rabu sekitar pukul 10.37 WITA dengan keluhan muntah terus-menerus dan dehidrasi.
Pasien kemudian dirujuk ke RSUD dr. R. Soedjono Selong pada Jumat sekitar pukul 11.00 WITA. Saat tiba di rumah sakit rujukan, kondisi bayi dilaporkan telah memburuk hingga kritis.
Tim instalasi gawat darurat (IGD) dan unit perawatan intensif (ICU) RSUD dr. R. Soedjono Selong disebut telah melakukan upaya penanganan medis sesuai kondisi pasien. Namun, setelah sekitar enam jam menjalani perawatan intensif, nyawa bayi tersebut tidak dapat diselamatkan.
Kondisi kritis saat tiba di rumah sakit rujukan menunjukkan beratnya kondisi medis yang dihadapi tim penanganan. Meski demikian, informasi tersebut belum cukup untuk memastikan penyebab kematian maupun menyimpulkan bahwa waktu rujukan menjadi penyebab langsung meninggalnya pasien.
Penilaian mengenai ketepatan penanganan membutuhkan pemeriksaan kronologi secara menyeluruh, termasuk kondisi pasien selama dirawat, perkembangan gejala, tindakan medis yang diberikan, serta pertimbangan klinis ketika keputusan rujukan diambil.
Proses Rujukan dan Pengawasan Manajemen Perlu Dijelaskan
Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah bagaimana pemantauan kondisi bayi dilakukan selama menjalani perawatan di RSLT, bagaimana perkembangan kondisinya dicatat, kapan indikasi rujukan diketahui, serta apa pertimbangan medis yang mendasari keputusan pemindahan pasien.
Muntah berulang dan dehidrasi pada bayi memerlukan penilaian medis yang cermat karena kondisi dapat memburuk. Oleh sebab itu, penelusuran terhadap proses perawatan harus mengacu pada rekam medis dan penjelasan tenaga kesehatan yang menangani pasien.
Dalam konteks tersebut, manajemen RSLT perlu memberikan penjelasan yang transparan dan mudah dipahami mengenai kronologi pelayanan, mekanisme rujukan, serta prosedur evaluasi internal yang diterapkan. Penjelasan tetap harus memperhatikan kerahasiaan rekam medis dan hak privasi pasien.
Sorotan juga mengarah kepada direktur rumah sakit sebagai pimpinan yang bertanggung jawab atas tata kelola dan pengawasan pelayanan institusi. Tanggung jawab manajerial perlu dinilai melalui kebijakan, pelaksanaan standar pelayanan, mekanisme pengaduan, serta tindak lanjut atas temuan evaluasi—bukan semata-mata berdasarkan tekanan atau komentar di media sosial.
Akun @Fathul Bahri bahkan melontarkan kritik keras terhadap pimpinan rumah sakit menggunakan bahasa daerah.
“Pecat direkturx ndrk gaweane, slapuk mslh lek RS Labuan ine, mslh pegawene, mslh pasien. Ye luekn gayen dir ne,” tulisnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan pemilik akun terhadap kepemimpinan rumah sakit. Namun, penilaian mengenai kinerja direktur dan tuntutan pergantian pimpinan tetap memerlukan dasar evaluasi yang objektif, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Evaluasi Terbuka Penting untuk Memulihkan Kepercayaan Publik
Kasus meninggalnya Muhamad Abdul Majid seharusnya menjadi momentum untuk menelusuri seluruh rangkaian pelayanan secara objektif. Evaluasi bukan untuk mendahului kesimpulan atau mencari pihak yang harus disalahkan, melainkan untuk memastikan setiap tahapan pelayanan berjalan sesuai standar dan setiap persoalan mendapatkan jawaban yang jelas.
Pihak rumah sakit perlu menjelaskan mekanisme penanganan pengaduan, standar pemantauan pasien, serta prosedur rujukan yang berlaku. Jika ditemukan kekurangan dalam pelayanan, langkah perbaikan harus dilakukan secara terukur agar kejadian serupa dapat dicegah.
Di sisi lain, keluarga korban berhak memperoleh penjelasan mengenai penanganan medis yang telah dijalani anaknya melalui mekanisme yang sesuai dengan ketentuan dan perlindungan kerahasiaan pasien.
Hingga naskah ini disusun, kronologi yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan adanya kelalaian medis. Klarifikasi resmi dari manajemen RSLT mengenai kasus tersebut masih diperlukan agar publik memperoleh informasi yang utuh, akurat, dan berimbang.
Sebab, kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit tidak hanya dibangun melalui fasilitas dan slogan pelayanan, tetapi juga melalui ketepatan tindakan medis, komunikasi yang manusiawi, keterbukaan dalam menjelaskan persoalan, serta kesungguhan memperbaiki setiap kekurangan.
Kematian seorang bayi bukan sekadar perkara yang ramai diperbincangkan di ruang digital. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan pasien, mutu pelayanan, dan tanggung jawab pengelolaan rumah sakit harus senantiasa menjadi prioritas.
(Tim/Red/SHN)
dibaca


Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments