HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan HUT ke-2 KPGP Gunung Purei: Sumpitan Tradisional Borong Tiga Gelar, Pemuda Dorong Dukungan Pemerintah hingga Tingkat Nasional

HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan HUT ke-2 KPGP Gunung Purei: Sumpitan Tradisional Borong Tiga Gelar, Pemuda Dorong Dukungan Pemerintah hingga Tingkat Nasional

MSRI, KALIMANTAN TENGAH - Momentum memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus HUT ke-2 KPGP Gunung Purei menjadi catatan penting bagi upaya pelestarian budaya dan pengembangan olahraga tradisional masyarakat pedalaman Kalimantan Tengah.

Dalam rangkaian lomba dan turnamen sumpitan tradisional pada ajang Kapuas Rhythm of Culture Regional Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, perwakilan Gunung Purei berhasil menorehkan prestasi dengan memborong tiga gelar juara.

Prestasi tersebut tidak sekadar menjadi kebanggaan bagi para peserta maupun masyarakat Gunung Purei. Lebih dari itu, capaian tersebut menunjukkan bahwa sumpitan tradisional yang selama ini dikenal sebagai bagian dari kehidupan masyarakat pedalaman dan dahulu digunakan sebagai sarana berburu, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari olahraga tradisional yang kompetitif.

Melalui kegiatan tersebut, Gunung Purei berupaya membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga, melestarikan, sekaligus mengembangkan sumpitan sebagai warisan budaya lokal agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Keberhasilan tampil dalam kompetisi tingkat regional Kabupaten Kapuas juga menjadi bukti bahwa olahraga tradisional tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan secara lebih luas, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.

Roni Eka Purwanto bersama Barto/Karlos, yang merupakan putra daerah Gunung Purei, menyampaikan harapan agar sumpitan tidak berhenti hanya sebagai peninggalan budaya, tetapi dapat dikembangkan menjadi sarana olahraga yang memiliki ruang kompetisi secara berkelanjutan.

“Kami sebagai pemuda berharap sumpitan dapat menjadi sebuah sarana olahraga. Dahulu sumpitan dikenal sebagai senjata untuk berburu, tetapi sekarang dapat dikembangkan dan dilestarikan melalui berbagai turnamen dan perlombaan. Harapannya, ke depan bisa berkembang dan mampu naik ke tingkat yang lebih tinggi,” ungkapnya kepada Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI).

Prestasi yang diraih semakin memperkuat semangat tersebut. Tiga nama yang berhasil mengharumkan Gunung Purei masing-masing Nusi Apriliani sebagai juara pertama, Irwan Saputra sebagai juara ketiga, dan Waapini sebagai juara kelima.

Ketiganya dinilai telah menunjukkan kemampuan sekaligus keberhasilan dalam membawa nama Gunung Purei melalui olahraga tradisional sumpitan.

Bagi masyarakat setempat, capaian tersebut menjadi sebuah “kado” istimewa di tengah momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus HUT ke-2 KPGP Gunung Purei.

Dorongan kepada Pemerintah Daerah hingga Pemerintah Pusat

Keluarga besar Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) bersama pemuda dan masyarakat setempat turut menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian nyata terhadap upaya pelestarian sumpitan tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Gunung Purei, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.

Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya memberikan apresiasi setelah prestasi diraih, tetapi juga hadir sejak proses pembinaan, pelestarian, pengembangan, penyelenggaraan turnamen, hingga membuka akses bagi generasi muda untuk terus mengembangkan kemampuan.

Dukungan tersebut dinilai penting agar sumpitan tidak sekadar menjadi simbol warisan budaya, melainkan mampu berkembang menjadi olahraga tradisional yang memiliki pembinaan dan kompetisi secara berkelanjutan.

Pemuda Gunung Purei juga berharap pemerintah dapat memberikan kemudahan dalam proses administrasi maupun perizinan berbagai kegiatan pelestarian budaya dan olahraga tradisional, sepanjang dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.

“Harapan kami kepada pemerintah setempat sangat besar. Kami ingin perjalanan pelestarian ini mendapatkan dukungan, mulai dari kegiatan lomba, pembinaan, sampai kemudahan dalam proses perizinan. Kami ingin budaya sumpitan yang ada di Gunung Purei tetap hidup, berkembang, dan dapat dikenal lebih luas,” ujar perwakilan pemuda.

Bukan Sekadar Perlombaan, tetapi Identitas Budaya

Sumpitan bagi masyarakat pedalaman Kalimantan bukan sekadar alat tradisional. Di dalamnya terdapat nilai sejarah, keterampilan, kearifan lokal, serta identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, keberhasilan para pemuda Gunung Purei dalam kompetisi sumpitan di Kabupaten Kapuas diharapkan menjadi awal dari langkah yang lebih besar.

Pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat diharapkan dapat melihat potensi tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional yang layak mendapatkan ruang pembinaan dan pengembangan.

Apabila dilakukan secara serius, terarah, dan berkelanjutan, sumpitan tradisional berpeluang menjadi salah satu cabang olahraga tradisional yang memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan kepada masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Gunung Purei telah menunjukkan langkahnya. Kini, dukungan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan sangat dibutuhkan agar sumpitan tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi mampu menjadi prestasi dan identitas budaya Indonesia di masa depan.

Reporter: Mbah Mul

MSRI - Perspektif Akurat Terpercaya

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama