MSRI, LOMBOK TIMUR - Semangat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia kembali menggema di Masbagik melalui Pawai Adat Sasak. Ribuan mata masyarakat tertuju pada iring-iringan peserta yang menampilkan ragam kreativitas, ketertiban barisan, serta kekayaan tradisi Sasak.
Pawai tahunan yang digelar setiap bulan Agustus tersebut dilepas oleh UPTD Dikbud yang mewakili Camat karena berhalangan hadir. Momentum ini sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk menempatkan kebudayaan lokal sebagai bagian penting dari semangat kemerdekaan.
Mengambil Lapangan Nasional Masbagik sebagai titik awal dan akhir, peserta menempuh rute berkeliling melalui kawasan Nenggung sebelum kembali ke lapangan.
Kepala SDN 05 Danger, Mujani, yang turut memberikan keterangan kepada awak media, mengatakan Pawai Adat Sasak telah menjadi agenda rutin setiap tahun dalam rangka memperingati bulan kemerdekaan.
“Pawai Adat Sasak ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Agustus. Peserta start dari Lapangan Nasional Masbagik, berkeliling melalui Nenggung, kemudian kembali dan finis di lapangan,” jelas Mujani.
Namun, kemeriahan pawai tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta maupun antusiasme penonton. Kedisiplinan, kekompakan, kreativitas, dan kualitas penampilan peserta turut menjadi bagian penting dalam kompetisi.
Sejumlah juri ditempatkan di titik-titik yang telah ditentukan untuk melakukan penilaian secara langsung. Aspek yang dinilai meliputi kreasi, kedisiplinan, dan barisan sebagai dasar menentukan peserta yang layak memperoleh predikat terbaik.
Di sepanjang rute, masyarakat tampak antusias menyaksikan jalannya pawai. Kehadiran warga dalam jumlah besar menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat, khususnya ketika dipadukan dengan momentum nasional seperti peringatan kemerdekaan.
Lebih dari sekadar arak-arakan budaya, Pawai Adat Sasak menjadi panggung yang memperlihatkan bagaimana identitas daerah dapat berjalan seiring dengan semangat kebangsaan.
Di tengah perubahan zaman, tradisi semacam ini memiliki arti strategis. Kebudayaan tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus dihidupkan melalui ruang-ruang publik dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Salah seorang warga yang ditemui Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) mengapresiasi kemeriahan pelaksanaan pawai tahun ini. Ia berharap penyelenggaraan pada tahun mendatang dapat semakin baik, lebih tertib, dan melibatkan masyarakat secara lebih luas.
“Semoga tahun depan lebih meriah lagi dan semakin baik,” ujarnya.
Pawai Adat Sasak tahun ini pada akhirnya memberikan pesan yang tegas: kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga tentang menjaga jati diri bangsa melalui budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Dari Masbagik, tradisi Sasak kembali mengambil ruang. Bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai bagian dari wajah Indonesia yang beragam, berbudaya, dan tetap berdiri dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Reporter: Makbul
MSRI | Media Suara Rakyat Indonesia
PERSPEKTIF • AKURAT • TERPERCAYA
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments