Relasi Pemerintah, KPK, dan Bea Cukai Menguat, H. Her Tetap Dapat Dukungan Ulama dan Petani Madura

Relasi Pemerintah, KPK, dan Bea Cukai Menguat, H. Her Tetap Dapat Dukungan Ulama dan Petani Madura


MSRI, SURABAYA - Dinamika industri tembakau nasional kembali menjadi sorotan seiring menguatnya sinergi antara pemerintah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melakukan pengawasan terhadap tata niaga tembakau dan peredaran rokok di Indonesia.

Langkah penguatan pengawasan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya negara dalam menjaga transparansi, menekan potensi pelanggaran, serta memastikan penerimaan negara dari sektor cukai tetap optimal. KPK mendorong tata kelola industri yang bersih dan akuntabel, sementara Bea Cukai memperketat pengawasan distribusi dan peredaran hasil tembakau di berbagai daerah.

Di tengah dinamika tersebut, nama CEO PT Bawas Mas, Khairul Umam alias H. Her, turut menjadi perhatian publik. Sosok pengusaha tembakau asal Madura ini dikenal luas karena kiprahnya dalam memperjuangkan kesejahteraan petani tembakau, khususnya di Pulau Madura.

Namun di sisi lain, munculnya berbagai isu dan sorotan terhadap industri tembakau membuat posisi para pelaku usaha, termasuk H. Her, berada dalam pusaran perhatian antara kepentingan regulasi negara dan realitas sosial ekonomi petani di lapangan.

Meski demikian, dukungan dari akar rumput justru mengalir deras kepada H. Her.

Ulama dan ribuan petani Madura menyambut kedatangannya dengan penuh antusias, Minggu (12/4/2026). Ribuan warga menyesaki sepanjang jalur mulai dari Jembatan Suramadu wilayah Bangkalan, jalan raya Sampang, hingga gudang induk Bawas Mas di Kecamatan Blumbungan, Pamekasan.

Berdasarkan pantauan langsung wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI) di lokasi, arus massa tampak memadati sisi kanan-kiri jalan dengan membawa atribut sederhana, sebagian mengenakan sarung dan peci khas Madura. Lantunan doa dan shalawat menggema sepanjang perjalanan rombongan, menciptakan suasana religius sekaligus penuh harapan menjelang musim tanam tembakau.

Gerakan massa tersebut bukanlah mobilisasi struktural, melainkan inisiatif murni dari para petani, ulama, dan masyarakat sebagai bentuk solidaritas serta doa bersama.

“Terima kasih atas antusiasme masyarakat yang sudah berpanas-panasan hari ini,” ujar H. Her di hadapan ribuan warga.

Ia menyebut, dukungan tersebut menjadi energi moral bagi dirinya untuk terus memperjuangkan nasib petani tembakau Madura di tengah berbagai tantangan regulasi dan dinamika industri.

“Mereka mendoakan dan mensupport agar saya tetap berjuang untuk para petani,” terangnya.

Dalam pantauan MSRI, sejumlah tokoh ulama juga tampak hadir mendampingi, memberikan doa dan restu secara langsung. Beberapa perwakilan petani bahkan menyampaikan harapan agar harga tembakau tetap stabil dan keberpihakan terhadap petani terus diperjuangkan di tingkat kebijakan.

Menanggapi fenomena tersebut, Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono yang akrab disapa Bram, turut memberikan pandangannya.

“Fenomena ini tidak bisa dilihat secara parsial. Di satu sisi, negara melalui pemerintah, KPK, dan Bea Cukai tentu memiliki kewajiban menjaga tata kelola yang bersih dan transparan. Namun di sisi lain, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap realitas sosial bahwa ada jutaan petani yang menggantungkan hidup dari sektor tembakau,” tegas Bram.

Ia menambahkan, figur seperti H. Her muncul sebagai representasi harapan bagi petani di tengah ketidakpastian pasar dan tekanan regulasi.

“Ketika ada pelaku usaha yang nyata-nyata hadir di tengah petani, menyerap hasil panen, bahkan menggandeng pesantren, itu adalah bentuk keberpihakan yang konkret.

Negara harus hadir bukan hanya dalam pengawasan, tetapi juga dalam perlindungan dan pemberdayaan,” lanjutnya.

Bram juga menekankan pentingnya keseimbangan antara penegakan hukum dan keberlangsungan ekonomi rakyat.

“Jangan sampai penegakan aturan justru mematikan ruang hidup petani. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan penegakan hukum berjalan, tapi keberlangsungan ekonomi rakyat tetap menjadi prioritas,” pungkasnya.

Diketahui, H. Her selama ini dikenal sebagai figur yang aktif menjembatani kepentingan petani dengan pasar. Bahkan, ia menggandeng sekitar 350 pesantren untuk menyerap hingga 60 ton tembakau Madura, sebagai upaya konkret menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan petani.

Gaya kepemimpinannya yang dekat dengan ulama dan masyarakat bawah menjadikan H. Her mendapat julukan “Sultan Madura” oleh sebagian kalangan. Namun di tengah penguatan pengawasan oleh negara, publik kini menanti bagaimana sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan pelaku usaha dapat berjalan seimbang tanpa mengorbankan kepentingan petani sebagai ujung tombak sektor tembakau.

MSRI mencatat, keberlanjutan industri tembakau tidak hanya bergantung pada regulasi dan pengawasan, tetapi juga pada keberpihakan nyata terhadap petani, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi di wilayah Madura.

{Redaksi MSRI}

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

أحدث أقدم