Padepokan Bino Roso Sejati Mengenal Filosofi Ketupat: Harmoni Islam dan Kearifan Jawa dalam Tradisi Lebaran

Padepokan Bino Roso Sejati Mengenal Filosofi Ketupat: Harmoni Islam dan Kearifan Jawa dalam Tradisi Lebaran
Dok, foto Padepokan Bino Roso Sejati Mengenal Filosofi Ketupat: Harmoni Islam dan Kearifan Jawa dalam Tradisi Lebaran. Sabtu (28/3/2026).

MSRI, JOMBANG - Muhammad Afandi yang biasa di sebut gus Afan (Pimpinan sekaligus Guru Besar Padepokan) Alamat : Dusun Gading RT/RW 015/004. Desa Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan, Kab Jombang. Memaparkan dalam khazanah budaya Nusantara, tradisi bukan sekadar warisan, melainkan napas kehidupan yang menyatukan nilai spiritual, sosial, dan kearifan lokal. Di tanah Jawa, salah satu tradisi yang sarat makna adalah ketupat hidangan sederhana yang menjelma simbol luhur saat Hari Raya Idul Fitri, bahkan hingga lebaran ketujuh yang dikenal sebagai “Bakda Kupat”. Sabtu, (28/03/2026).

Sebagaimana falsafah hidup orang Jawa yang menjunjung harmoni, tradisi ketupat mengajarkan pentingnya tasamuh (toleransi), saling menghargai, serta kesadaran bahwa kebenaran sejati hanyalah milik Gusti Kang Akaryaning Jagat, Sang Pencipta Alam Semesta. Perbedaan tafsir dalam memahami asal-usul dan makna tradisi bukanlah alasan untuk berselisih, melainkan ruang untuk saling menguatkan dalam kebijaksanaan.

Sejarah mencatat, tradisi ketupat tak lepas dari peran Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa pada abad ke-15 hingga 16. Dengan pendekatan budaya, beliau merajut ajaran Islam ke dalam tradisi lokal, menjadikan ketupat sebagai simbol akulturasi yang indah antara syariat dan budaya.

Janur Kuning: Jalan Menuju Cahaya Ilahi

Janur kuning yang menjadi bahan utama anyaman ketupat bukan sekadar hiasan. Dalam filosofi Jawa, “janur” dimaknai sebagai sejane ning nur jalan menuju cahaya Ilahi. Sementara warna kuning melambangkan sabdo dadi, yakni kemurnian hati dan ketulusan jiwa.

Dari sini tersirat doa agar manusia senantiasa berjalan menuju cahaya Allah dengan hati yang bersih, setelah ditempa oleh ibadah di bulan Ramadan.

Bentuk Segi Empat: Kiblat Papat Limo Pancer

Ketupat berbentuk segi empat mencerminkan konsep kiblat papat limo pancer empat arah mata angin dengan satu pusat. Ini mengajarkan bahwa ke mana pun manusia melangkah, sejatinya tetap menuju satu tujuan: Allah SWT.

Secara batiniah, bentuk ini juga melambangkan empat nafsu manusia: amarah, aluamah, supiah, dan mutmainah. Melalui puasa Ramadan, manusia dilatih untuk menundukkan nafsu-nafsu tersebut, hingga mencapai kejernihan jiwa.

Anyaman: Simbol Dosa dan Pengampunan

Rangkaian anyaman janur yang saling terkait menggambarkan kompleksitas kesalahan manusia. Tak ada insan tanpa khilaf. Namun ketika ketupat dibelah, tampaklah isi berwarna putih bersih—simbol kesucian setelah proses taubat dan saling memaafkan di hari yang fitri.

Beras: Lambang Kemakmuran

Isi ketupat berupa beras melambangkan kesejahteraan. Filosofinya dalam: kemakmuran sejati hanya akan terwujud jika manusia memiliki hati yang bersih dan jiwa yang suci. Dengan kata lain, kesejahteraan sosial berakar dari kebersihan moral individu.

Kupat dan Lepet: Ngaku Lepat dan Silep Kang Rapet

Dalam bahasa Jawa, “kupat” dimaknai sebagai ngaku lepat (mengakui kesalahan). Sedangkan “lepet” berasal dari silep kang rapet menyimpan rapat kesalahan yang telah dimaafkan.

Maknanya begitu dalam: setelah saling memaafkan, manusia diajarkan untuk tidak lagi mengungkit luka lama, melainkan menjaga persaudaraan dengan hati yang lapang.

Tekstur lepet yang lengket pun menjadi simbol eratnya tali silaturahmi—persaudaraan yang tak mudah terpisahkan oleh waktu maupun perbedaan.

Dalam pandangan Muhammad Afandi, Pendiri sekaligus Guru Besar Padepokan Bino Roso Sejati, ketupat bukan sekadar hidangan, melainkan laku spiritual yang membumi. Ia adalah pengingat bahwa perjalanan manusia menuju kesempurnaan harus melalui penyucian diri, pengendalian nafsu, serta keikhlasan dalam memaafkan.

Pada akhirnya, tradisi ketupat adalah cermin keindahan Islam yang menyatu dengan budaya Jawa mengajarkan bahwa religiusitas tidak harus meninggalkan tradisi, melainkan merangkulnya dengan makna. Dari anyaman janur hingga nasi yang memutih, tersimpan doa agar kehidupan manusia senantiasa damai, rukun, dan penuh berkah.

Di tengah dinamika zaman, menjaga tradisi seperti ketupat berarti menjaga jati diri sekaligus merawat harmoni antara manusia, budaya, dan Sang Pencipta.

Reporter : Cak Loem

Editor : Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama