MSRI Mojokerto: Dalam Pelukan Idul Fitri 1447 H, Silaturahmi Mengalir, Doa Mengangkasa, dan Bakti kepada Orang Tua Menguatkan Fitrah

MSRI Mojokerto: Dalam Pelukan Idul Fitri 1447 H, Silaturahmi Mengalir, Doa Mengangkasa, dan Bakti kepada Orang Tua Menguatkan Fitrah
Dok, foto: MSRI Mojokerto: Dalam Pelukan Idul Fitri 1447 H, Silaturahmi Mengalir, Doa Mengangkasa, dan Bakti kepada Orang Tua Menguatkan Fitrah. Selasa (24/3)2026).

MSRI, MOJOKERTO – Di bawah langit Syawal yang bening, ketika gema takbir mengalun lirih menyentuh jiwa, suasana hangat penuh haru menyelimuti kediaman Kepala Biro (Kabiro) Mojokerto, perwakilan Keluarga Besar Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI). Momentum suci Hari Raya Idul fitri 1 Syawal 1447 H ini menjadi saksi pertemuan yang bukan sekadar temu raga, melainkan juga perjumpaan hati yang lama merindu dalam balutan silaturahmi.

Kebersamaan itu kian bermakna dengan hadirnya kakak kedua beserta keponakan dari Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Jarak yang terbentang seakan luruh dalam satu pelukan hangat, menyatukan kembali serpihan kenangan menjadi mozaik kebahagiaan yang utuh.

Di hari yang fitri, setiap lafadz takbir yang berkumandang seakan menjadi panggilan langit agar manusia kembali kepada kesucian. Idulfitri bukan hanya tentang perayaan, melainkan perjalanan ruhani ruang sunyi tempat hati belajar merendah, saling memaafkan, dan mengikhlaskan. Di situlah makna sejati kemenangan, ketika ego ditundukkan dan kasih sayang dimenangkan.

Silaturahmi yang terjalin menjadi jembatan yang menguatkan nilai-nilai kekeluargaan. Dalam setiap senyum dan jabat tangan, tersimpan pesan Ilahi tentang pentingnya menjaga ukhuwah, merawat keharmonisan, dan menyambung tali yang mungkin sempat terputus oleh waktu, jarak, dan kesibukan duniawi. 

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, 

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, di balik kebahagiaan itu, terselip keharuan yang menggetarkan hati. Sosok orang tua hadir dalam ingatan mereka yang dengan cinta tanpa syarat telah membesarkan, mendidik, dan mengorbankan segalanya. 

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: 

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24).

Kini, saat peran sebagai orang tua mulai kita jalani, barulah tersingkap tabir pengorbanan yang dahulu mungkin luput kita pahami. Betapa tidak mudah memikul amanah itu, dan betapa luasnya cinta orang tua yang tak pernah meminta balas.

Pesan penuh hikmah pun disampaikan oleh kakak kedua, mengajak seluruh keluarga untuk terus menjaga persatuan.

Ia mengingatkan bahwa mengenal akar keluarga adalah bagian dari menjaga jati diri, agar generasi penerus tidak tercerabut dari nilai kebersamaan dan tetap tumbuh dalam harmoni yang kokoh.

Di momentum yang suci ini, syukur dipanjatkan bagi orang tua yang masih diberi usia untuk mendampingi. Sementara bagi mereka yang telah berpulang, doa-doa tulus mengalir, menembus langit, memohonkan ampunan dan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Karena sejatinya, ridha orang tua adalah pintu ridha Ilahi, dan doa mereka adalah cahaya yang menerangi perjalanan hidup anak-anaknya.

Idulfitri 1447 H ini menjadi cermin batin tentang makna memaafkan dengan tulus, mendoakan dengan ikhlas, dan menghargai jasa orang tua dengan sepenuh jiwa. Semoga kita senantiasa kembali kepada fitrah yang suci, dalam lindungan dan keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta dipersatukan kembali kelak di surga-Nya bersama orang-orang yang kita cintai.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar… Walillahilhamd.

Penulis : Mbah Mul

Editor : Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama