MSRI, SURABAYA - Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan bagi seluruh umat Islam. Allah SWT menegaskan kewajiban dan tujuan puasa dalam firman-Nya pada Surah Al-Baqarah ayat 183:
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Ayat tersebut menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembentukan karakter menuju ketakwaan. Selain itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 disebutkan bahwa
"Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta pembeda antara yang hak dan yang batil. Inilah yang menjadikan Ramadhan memiliki dimensi spiritual sekaligus moral yang sangat kuat.
Momen berbuka puasa menghadirkan rasa syukur yang mendalam. Setelah seharian menahan diri, seteguk air dan sebutir kurma terasa begitu nikmat.
Buka puasa bukan hanya peristiwa biologis, melainkan simbol kemenangan atas hawa nafsu dan wujud kesabaran. Kebersamaan keluarga dalam suasana berbuka mempererat silaturahmi serta menumbuhkan empati sosial terhadap sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan.
Sementara itu, sahur menjadi waktu yang sarat keberkahan. Di penghujung malam, umat Islam tidak hanya mempersiapkan fisik untuk berpuasa, tetapi juga memperbanyak doa, istighfar, dan munajat kepada Allah SWT. Keheningan dini hari menghadirkan ruang refleksi diri yang mendalam, memperkuat niat serta komitmen dalam menjalani ibadah.
Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono yang akrab disapa Bram, menegaskan bahwa nilai-nilai Ramadhan seharusnya tidak berhenti pada aspek ritual semata.
“Ramadhan mengajarkan kejujuran, kesabaran, dan empati. Buka puasa dan sahur bukan hanya rutinitas, tetapi simbol pengendalian diri dan rasa syukur. Nilai-nilai ini penting diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam dunia jurnalistik yang menjunjung tinggi kebenaran dan integritas,” ujarnya.
Menurut Bram, semangat Ramadhan hendaknya menjadi refleksi kolektif untuk memperkuat tanggung jawab moral dan sosial, sehingga setiap peran baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari institusi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dengan demikian, keistimewaan buka dan sahur di bulan Ramadhan tidak hanya menghadirkan kenikmatan spiritual, tetapi juga menjadi momentum pembentukan pribadi yang lebih bertakwa, berintegritas, dan peduli terhadap sesama.
{Redaksi MSRI}
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments