Awal Ramadan 1447 H: Menanti Keputusan Resmi Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah

Awal Ramadan 1447 H: Menanti Keputusan Resmi Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah


MSRI, SURABAYA – Datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah merupakan saat yang dinanti penuh harap oleh umat Islam. Ramadan bukan sekadar momentum ibadah puasa, melainkan juga bulan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), peningkatan ketakwaan, serta penguatan ukhuwah Islamiyah.

Menjelang 2026, masyarakat mulai menanti kepastian kapan 1 Ramadan 1447 H dimulai, agar dapat mempersiapkan diri secara spiritual, sosial, dan fisik dengan sebaik-baiknya.

Di Indonesia, penetapan awal Ramadan merujuk pada keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama Republik Indonesia, serta pandangan organisasi Islam besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang memiliki metodologi penetapan masing-masing.

Lalu, kapan awal Ramadan 1447 H jatuh? Berikut penjelasan lengkapnya.

Versi Pemerintah: Menanti Hasil Sidang Isbat

Berdasarkan kalender Hijriah nasional, 1 Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026. Namun demikian, kepastian resminya tetap menunggu hasil sidang isbat yang dijadwalkan pada 17 Februari 2026 oleh Kementerian Agama.

Penentuan ini menggunakan metode hisab dan rukyat, yakni perpaduan antara perhitungan astronomi (hisab) dan pengamatan langsung hilal (rukyat) di berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.

Hasil sidang isbat inilah yang menjadi acuan resmi bagi pelaksanaan ibadah puasa umat Islam di Indonesia, sekaligus bentuk tanggung jawab negara dalam menjaga ketertiban dan persatuan umat.

Pandangan Nahdlatul Ulama: Rukyat sebagai Landasan Syariat

Nahdlatul Ulama menetapkan awal bulan Hijriah melalui metode rukyatul hilal, yakni pengamatan hilal secara langsung setelah matahari terbenam pada tanggal 29 bulan berjalan.

Apabila hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru. Namun jika tidak terlihat, maka dilakukan istikmal (penyempurnaan bulan menjadi 30 hari). Metode ini selaras dengan mekanisme sidang isbat pemerintah, sehingga secara umum warga NU mengikuti hasil keputusan resmi pemerintah.

Pendekatan ini berpijak pada hadis Nabi Muhammad SAW:

“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, warga NU menunggu hasil rukyat dan keputusan sidang isbat sebagai pedoman pelaksanaan puasa.

Ketetapan Muhammadiyah: Hisab Hakiki Wujudul Hilal

Sementara itu, Muhammadiyah melalui Maklumat Pimpinan Pusat telah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni sistem perhitungan astronomi yang menentukan awal bulan Hijriah berdasarkan posisi geometris matahari dan bulan. Dalam perhitungan tersebut, bulan dinyatakan telah memenuhi kriteria wujudul hilal sehingga Ramadan dimulai pada tanggal tersebut.

Metode ini memberikan kepastian jauh hari sebelumnya sehingga umat dapat merencanakan ibadah dengan lebih terstruktur.

Perbedaan Metode, Semangat yang Sama

Perbedaan metode antara pemerintah (hisab dan rukyat), NU (rukyat), dan Muhammadiyah (hisab wujudul hilal) berpotensi menimbulkan perbedaan tanggal awal puasa. Namun, perbedaan tersebut merupakan bagian dari khazanah ijtihad fiqih yang telah lama hidup dalam tradisi Islam di Indonesia.

Al-Qur’an mengingatkan:

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Esensi Ramadan bukan semata pada perbedaan tanggal, melainkan pada spirit ketakwaan, persatuan, dan kemuliaan akhlak. Masyarakat dapat mengikuti ketetapan sesuai pedoman yang diyakini, dengan tetap menjaga sikap saling menghormati dan ukhuwah.

Semoga Ramadan 1447 H menjadi momentum memperkuat iman, memperdalam ibadah, serta mempererat persaudaraan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Selamat menjalankan ibadah Puasa Ramadhan 1447 H"

Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI)

"PERSPEKTIF, AKURAT dan TERPERCAYA"

{Redaksi MSRI}

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama