Pengajian Rutin Tholabul Ilmi di PP Internasional Al-Iliyin: Memuliakan Rajab dengan Ilmu, Ibadah, dan Amal Menuju Istana Surga

Pengajian Rutin Tholabul Ilmi di PP Internasional Al-Iliyin: Memuliakan Rajab dengan Ilmu, Ibadah, dan Amal Menuju Istana Surga
Dok, foto: Pengajian Rutin Tholabul Ilmi di PP Internasional Al-Iliyin: Memuliakan Rajab dengan Ilmu, Ibadah, dan Amal Menuju Istana Surga. Sabtu malam, (10/1/2026).

MSRI, GRESIK - Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti pelaksanaan Pengajian Rutin Tholabul Ilmi yang digelar di Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin, Dusun Sumberwaru RT 02 RW 03, Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Majelis ilmu ini dihadiri para santri, jamaah, serta masyarakat umum yang hadir dengan niat tulus menuntut ilmu (tholabul ilmi), terlebih di bulan mulia Rajab, salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam.

Pengajian dipimpin langsung oleh Mursyid Thariqah sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Internasional Al-Iliyin, Abuya Ahmad Yani Iliyin. Turut hadir sejumlah ulama terkemuka, di antaranya Syekh Muhammad Bil Faqih, Ketua sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur’an Al-Faqih Madura, KH Faishol Izzuddin dari Pondok Pesantren Mujaddadiyyah Madiun, serta para kiai dan ulama dari Surabaya dan sekitarnya. Para masyayikh menyampaikan mauidzah hasanah yang sarat hikmah tentang keutamaan bulan Rajab, hakikat ujian kehidupan, kekuatan doa, serta kedudukan salat sebagai poros keberkahan hidup seorang mukmin.

Dalam pengantar tausiyahnya, Abuya Ahmad Yani Iliyin menegaskan kemuliaan bulan Rajab yang dikenal sebagai Syahrullah al-Ashamm—bulan Allah yang agung. Beliau mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dari Abdullah bin Zubair r.a., bahwa barang siapa melapangkan satu kesulitan seorang mukmin di bulan Rajab, maka Allah SWT akan membangunkan baginya istana di Surga Firdaus seluas sejauh pandangan mata. Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa memuliakan Rajab tidak berhenti pada ritual semata, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial, amal kebajikan, dan penguatan ibadah.

Pengajian Rutin Tholabul Ilmi di PP Internasional Al-Iliyin: Memuliakan Rajab dengan Ilmu, Ibadah, dan Amal Menuju Istana Surga

Pengajian Rutin Tholabul Ilmi di PP Internasional Al-Iliyin: Memuliakan Rajab dengan Ilmu, Ibadah, dan Amal Menuju Istana Surga

“Monggo kita muliakan bulan Rajab dengan tholabul ilmi,” dawuh Abuya, seraya mengajak jamaah meluruskan niat menuntut ilmu sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT serta meraih keberkahan dunia dan akhirat.

Lebih lanjut, Abuya menjelaskan makna ujian dan cobaan hidup. Menurut beliau, setiap permasalahan yang hadir dalam kehidupan manusia memiliki dua dimensi: bisa menjadi ujian bagi hamba yang dicintai Allah SWT, atau menjadi peringatan bagi mereka yang mulai menjauh dari-Nya. Allah SWT menguji hamba-hamba pilihan-Nya bukan untuk menyengsarakan, melainkan untuk meninggikan derajat dan menyucikan hati mereka.

Abuya kemudian menyinggung kisah Rasulullah SAW yang menjelang wafatnya masih memiliki tanggungan utang. Hal tersebut menjadi pelajaran mendalam bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dari harta dan kemewahan dunia, melainkan dari iman, keikhlasan, dan amal saleh. Di antara para sahabat Nabi pun terdapat perbedaan kondisi ekonomi—ada yang wafat dalam kelapangan harta, ada pula yang hidup dalam kesederhanaan—namun semuanya mulia karena ketaatan mereka kepada Allah SWT.

Pengajian Rutin Tholabul Ilmi di PP Internasional Al-Iliyin: Memuliakan Rajab dengan Ilmu, Ibadah, dan Amal Menuju Istana Surga


Dalam tausiyahnya, Abuya juga mengisahkan gambaran dahsyat di hari kiamat tentang seorang hamba yang timbangan amal buruknya lebih berat dibanding amal baiknya. Namun Allah SWT menunjukkan satu gulungan amal yang sangat berat timbangannya, yakni doa-doa yang tidak dikabulkan di dunia, tetapi dicatat dan disimpan langsung oleh Allah sebagai pahala besar. Dengan sebab itulah, hamba tersebut akhirnya dimasukkan ke dalam surga. Kisah ini menjadi penguat bagi jamaah agar tidak berputus asa ketika doa belum terwujud, karena Allah Maha Mengetahui waktu dan hikmah terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Kisah haru berlanjut ketika Abuya menuturkan dialog penuh makna antara Rasulullah SAW dan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Abu Bakar bahkan berharap doanya tidak dikabulkan di dunia agar ia merasakan keindahan balasan di akhirat kelak. Rasulullah SAW tersenyum, menggambarkan betapa tingginya maqam keimanan sahabat terdekat beliau tersebut.

Pada kesempatan itu pula, Abuya Ahmad Yani Iliyin menekankan pentingnya salat, khususnya salat malam (tahajud), terlebih di bulan Rajab yang penuh keutamaan. Salat tahajud di bulan Rajab disebut memiliki fadhilah luar biasa, bahkan diserupakan dengan ibadah setahun penuh tanpa dosa. Beliau menegaskan bahwa siapa pun yang menegakkan salat malam—baik salat taubat, hajat, maupun tahajud—hakikatnya telah masuk dalam keutamaan ibadah tahajud itu sendiri.


“Setingkah apa pun, ojo pisan-pisan ninggalake salat,” pesan beliau dengan tegas. Salat adalah poros kehidupan; darinya mengalir keberkahan, ketenteraman, dan kebahagiaan sejati.

Abuya juga mengingatkan bahwa salat merupakan satu-satunya perintah yang disampaikan Allah SWT secara langsung kepada Rasulullah SAW melalui peristiwa Isra’ Mi’raj, tanpa perantara malaikat. Hal ini menunjukkan betapa agung dan fundamentalnya kedudukan salat dalam Islam.

Menurut beliau, surga dan neraka tidak hanya kelak di akhirat, tetapi juga tercermin dalam kondisi hati manusia di dunia: ketenangan adalah surga, kegelisahan adalah neraka. Kendati demikian, keyakinan tentang adanya surga dan neraka secara nyata di akhirat tetap wajib diimani secara utuh sesuai aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Menutup tausiyahnya, Abuya Ahmad Yani Iliyin mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan tholabul ilmi, salat, doa, dan kepedulian sosial sebagai bekal utama seorang mukmin di akhir zaman. Ilmu tanpa adab dan ibadah tanpa istiqamah, tegas beliau, tidak akan melahirkan keberkahan. Oleh karena itu, majelis ilmu seperti Pengajian Rutin Tholabul Ilmi harus terus dirawat dan dijaga sebagai wasilah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pengajian ditutup dengan doa bersama dan lantunan sholawat hingga menjelang dini hari, dalam suasana penuh kekhusyukan. Jamaah pun pulang dengan hati yang teduh, membawa pesan kuat bahwa memuliakan bulan Rajab dengan ilmu dan amal nyata adalah jalan menuju kemuliaan hidup, keberkahan, dan istana surga yang dijanjikan Allah SWT.

Reporter : Cak Loem

Editor : Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama