Mujahadah Kubro : Jejak Spiritual Pedepokan Eyang Macan Putih Menuju Pusat Cahaya Kedunglo Kediri

Mujahadah Kubro : Jejak Spiritual Pedepokan Eyang Macan Putih Menuju Pusat Cahaya Kedunglo Kediri
Dok, foto: Mujahadah Kubro : Jejak Spiritual Pedepokan Eyang Macan Putih Menuju Pusat Cahaya Kedunglo Kediri. Minggu (11/1/2026).

MSRI, KEDIRI - Bulan Rajab hadir sebagai bulan pemuliaan, saat pintu-pintu langit seakan terbuka lebih lebar untuk doa dan dzikir hamba-Nya.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan… di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Sebagai salah satu bulan haram, Rajab dimaknai dengan penuh kekhusyukan oleh keluarga besar Pedepokan Eyang Macan Putih. Di bawah bimbingan Gus Yudi, para jamaah menata niat, membersihkan hati, dan melangkah bersama dalam satu rombongan, mengharap limpahan rahmat serta ridha Allah SWT.

Pada Minggu, 11 Januari 2026, rombongan bertolak dari Jalan Pulo Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, menuju Pondok Pesantren Kedunglo, Kota Kediri. Perjalanan ini bukan sekadar safar jasmani, melainkan perjalanan ruhani—sebuah ikhtiar mendekat kepada Allah melalui Mujahadah Kubro, amalan yang dilaksanakan secara istiqamah setiap enam bulan sekali.

Mujahadah Kubro kali ini bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, peristiwa agung yang meneguhkan shalat sebagai mi’rajnya orang beriman. 

Mujahadah Kubro : Jejak Spiritual Pedepokan Eyang Macan Putih Menuju Pusat Cahaya Kedunglo Kediri


Sebagaimana firman Allah SWT:

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…” (QS. Al-Isra’: 1).

Selain itu, mujahadah juga dirangkai dengan Haul ke-22 KH Abdul Madjid Ma’aroef QS wa RA, sosok ulama besar, mursyid ruhani, dan pendiri Pondok Pesantren Kedunglo, yang namanya harum dalam sejarah tasawuf dan dakwah di Nusantara.

Jejak Spiritual KH Abdul Madjid Ma’aroef QS wa RA

KH Abdul Madjid Ma’aroef QS wa RA dikenal sebagai ulama yang memadukan kedalaman syariat, kejernihan hakikat, dan kematangan makrifat. Beliau adalah tokoh sentral pengamal dan pewaris Sholawat Wahidiyah, sebuah jalan dzikir dan sholawat yang mengajak umat untuk menyucikan hati, memperbaiki akhlak, serta menguatkan kesadaran akan kehadiran Allah dan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui riyadlah dan mujahadah yang panjang, beliau membimbing umat dengan kelembutan, keteladanan, dan keikhlasan. Dakwahnya tidak hanya melalui lisan, tetapi melalui laku hidup yang penuh kesederhanaan dan cinta. Hingga wafatnya, KH Abdul Madjid Ma’aroef QS wa RA meninggalkan warisan spiritual yang terus hidup, diamalkan, dan diwariskan lintas generasi.

Haul ke-22 menjadi pengingat bahwa para kekasih Allah memang telah berpulang, namun cahaya ilmunya tetap menyinari jalan para pencari kebenaran.


Safar Dzikir Menuju Kedunglo

Rombongan Pedepokan Eyang Macan Putih berangkat menggunakan satu unit minibus bernomor polisi S 7176 T, diiringi lantunan takbir dan doa. Gus Yudi mengajak seluruh jamaah untuk menyerahkan perjalanan ini sepenuhnya kepada Allah SWT.

“Selagi kita masih diberi umur, kesehatan, dan kesempatan di bulan Rajab yang mulia ini, mari kita manfaatkan untuk memperbanyak dzikir, sholawat, dan mujahadah agar hidup kita senantiasa berada dalam lindungan Allah,” tutur Gus Yudi dengan penuh keteduhan.

Allah SWT berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

MSRI: Merawat Spiritualitas Umat

Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono, yang akrab disapa Cak Bram, menyampaikan apresiasi mendalam atas kegiatan spiritual tersebut.

“Di tengah kehidupan yang serba cepat dan bising, mujahadah seperti ini menjadi oase ruhani. Ini bukan sekadar tradisi, melainkan ikhtiar menjaga sanad spiritual para ulama dan menguatkan iman umat,” ujar Cak Bram.

Ia menegaskan bahwa MSRI berkomitmen mengawal kegiatan keagamaan yang menebarkan nilai kedamaian, keteladanan, dan kearifan lokal.

“MSRI hadir bukan hanya sebagai media informasi, tetapi sebagai bagian dari ikhtiar merawat nilai-nilai spiritual dan persaudaraan kebangsaan,” tegasnya.

Doa Bersama Penutup

Di penghujung perjalanan, seluruh jamaah menundukkan hati dan menyatukan doa:

Ya Allah, di bulan Rajab yang Engkau muliakan ini, terimalah setiap langkah kami sebagai ibadah, setiap dzikir kami sebagai cahaya, dan setiap sholawat kami sebagai wasilah mendekat kepada-Mu.

Limpahkanlah keselamatan dalam perjalanan kami, keberkahan dalam niat kami, serta keistiqamahan dalam mengamalkan ajaran-Mu. Jadikanlah Mujahadah Kubro ini sebagai penyuci jiwa, penguat iman, dan pengikat ukhuwah di antara kami.

Curahkan rahmat-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, kepada para ulama, dan khususnya kepada KH Abdul Madjid Ma’aroef QS wa RA. Terangilah kuburnya, lapangkan maqamnya, dan jadikan kami penerus yang setia menjaga warisan dzikir, sholawat, dan akhlak mulia.

Anugerahkan kepada kami umur yang barokah, kesehatan, serta akhir hayat yang husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Reporter : Mbah Mul

Editor : Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama