![]() |
| Dok, foto; Cangkrukan di Angkringan 36 Tulungagung: Merawat Silaturahmi dan Gagasan Kritis Pers. Sabtu (27/12/2025). |
MSRI, TULUNGAGUNG - Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kegiatan cangkrukan insan pers yang berlangsung pada Sabtu, 27 Desember 2025, di Angkringan 36, Jalan Urip Sumoharjo No. 96–95, Kepatihan, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Angkringan 36 dikenal dengan nuansa sederhana namun nyaman, serta menyediakan beragam aneka minuman dan makanan khas angkringan. Sajian minuman hangat, kopi, teh, hingga makanan ringan tradisional menjadi pelengkap suasana diskusi yang berlangsung cair namun sarat makna.
Forum santai tersebut dihadiri oleh Kaperwil Jawa Timur Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Roni Yuwantoko, serta Supra Mekso dari Media SuryaNenggala.id (mantan jurnalis MSRI).
Cangkrukan ini menjadi ruang dialog terbuka yang tidak hanya mempererat silaturahmi antar insan pers, tetapi juga menjadi wadah pertukaran gagasan kritis seputar peran pers, independensi media, serta tantangan jurnalistik di tengah dinamika sosial dan derasnya arus informasi.
Kaperwil Jawa Timur MSRI, Roni Yuwantoko, menegaskan bahwa ruang-ruang diskusi informal seperti ini memiliki nilai strategis dalam menjaga marwah pers.
“Cangkrukan bukan sekadar ngobrol santai, tetapi menjadi ruang refleksi dan konsolidasi pemikiran. Di sinilah insan media bisa saling menguatkan komitmen untuk tetap berpihak pada kebenaran, independensi, dan kepentingan publik,” ujarnya.
Sementara itu, Supra Mekso dari Media SuryaNenggala.id menyampaikan bahwa jurnalisme yang sehat lahir dari komunikasi yang terbuka dan saling menghargai antar insan pers.
“Pers harus tetap menjadi penjaga nalar publik. Diskusi ringan seperti ini justru sering melahirkan perspektif tajam yang bermanfaat bagi kerja-kerja jurnalistik ke depan,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut juga menarik perhatian para pengunjung Angkringan 36. Adi, salah satu pengunjung, mengaku terkesan dengan suasana diskusi yang berlangsung.
“Saya melihat diskusinya santai tapi substansinya dalam. Ini menunjukkan bahwa wartawan tidak eksklusif, mereka hadir dan menyatu dengan ruang rakyat,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Rizky, pengunjung lainnya, yang menilai kegiatan tersebut mencerminkan wajah pers yang membumi.
“Diskusi seperti ini membuat kami sebagai masyarakat merasa dekat dengan insan pers. Angkringan menjadi ruang publik yang hidup, bukan sekadar tempat nongkrong,” ujarnya.
Sementara itu, Aulia, pemilik Angkringan 36, menyambut baik kegiatan cangkrukan insan pers yang digelar di tempat usahanya. Ia mengaku bangga angkringannya bisa menjadi ruang dialog yang positif.
“Saya senang Angkringan 36 bisa menjadi tempat silaturahmi dan diskusi yang bermanfaat. Semoga kegiatan seperti ini terus ada dan memberi dampak baik bagi masyarakat,” ungkap Aulia.
Di tempat terpisah, Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono, yang akrab disapa Bram, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, kebersamaan dan dialog lintas media merupakan kekuatan penting dalam menjaga fungsi kontrol sosial pers.
“MSRI memandang silaturahmi dan diskusi antar jurnalis sebagai bagian dari ikhtiar menjaga idealisme pers. Media harus tetap kritis, berintegritas, dan hadir sebagai suara rakyat, bukan sekadar corong kepentingan,” tegas Bram.
Cangkrukan di Angkringan 36 ini menjadi bukti bahwa dari ruang yang sederhana, ditemani sajian makanan dan minuman khas angkringan, dapat tumbuh gagasan besar untuk memperkuat peran pers yang profesional, beretika, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.
Cangkrukan ini mencerminkan wajah jurnalisme yang tumbuh dari kedekatan dengan realitas sosial dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Di tengah tekanan profesionalisme, tarik-menarik kepentingan, serta percepatan perubahan ekosistem media, forum diskusi nonformal menjadi ruang penting untuk merawat kejernihan sikap, keteguhan nilai, dan ketajaman berpikir insan pers.
Lebih dari sekadar pertemuan santai, cangkrukan di Angkringan 36 menjadi ruang pertemuan gagasan dan penyatuan komitmen lintas media. Melalui komunikasi yang terbuka dan setara, terbangun kesadaran bersama bahwa pers memiliki tanggung jawab etik untuk menjaga demokrasi, menyuarakan kepentingan publik, dan memelihara kepercayaan masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan tersebut, para jurnalis berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain mempererat hubungan antar insan pers, forum ini diharapkan menjadi ruang lahirnya pemikiran kritis yang memperkuat peran pers sebagai institusi yang independen, profesional, dan berfungsi sebagai kontrol sosial.
Reporter : Firnanda
Editor : Redaksi MSRI
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments