MSRI, MOJOKERTO – Dalam nuansa Syawal yang masih hangat dan penuh keberkahan, warga Desa Bangsal, Dusun Kauman, Kabupaten Mojokerto, menggelar tradisi Halalbihalal Lebaran Ketupat pada Kamis, 26 Maret 2026.
Kegiatan ini menjadi momentum sakral untuk menyempurnakan makna kemenangan setelah Hari Raya Idul Fitri.
Lebaran bukan sekadar perayaan, melainkan ruang batin untuk kembali merajut silaturahmi yang mungkin sempat renggang.
Dalam suasana penuh keakraban, warga saling berkunjung, berbagi hidangan, serta mempererat hubungan persaudaraan dengan hati yang lapang dan tulus.
Tradisi Lebaran Ketupat atau yang dikenal dalam budaya Jawa sebagai Bakda Kupat menjadi puncak dari rangkaian ibadah Idul Fitri. Biasanya dilaksanakan pada 8 Syawal, setelah umat Muslim menunaikan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Lebih dari sekadar tradisi kuliner, kenduri ketupat menyimpan makna spiritual yang mendalam.
Secara filosofis, “kupat” dimaknai sebagai ngaku lepat—pengakuan atas segala kesalahan. Anyaman janur yang membungkus ketupat melambangkan kompleksitas kehidupan manusia, sementara isinya yang putih bersih menjadi simbol hati yang kembali suci setelah ditempa oleh ibadah Ramadan.
Dalam balutan kebersamaan itu, warga Desa Bangsal menjadikan momen ini sebagai ruang untuk saling memaafkan, memperkuat ukhuwah, dan meneguhkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Hidangan sederhana yang tersaji justru menghadirkan kehangatan yang tak ternilai—mengikat rasa kekeluargaan yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
Lebaran Ketupat, dengan segala kesederhanaannya, menegaskan bahwa kemenangan sejati bukan hanya dirayakan, tetapi juga dirawat—dalam silaturahmi, dalam keikhlasan, dan dalam doa-doa yang terus dipanjatkan.
{Mbah Mul}
dibaca

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments