Petirtaan Jolotundo Mojokerto Tetap Menjadi Ruang Tirtayatra Suci, Warisan Spiritual Prabu Airlangga Hidup dalam Laku Doa Tanpa Henti

Petirtaan Jolotundo Mojokerto Tetap Menjadi Ruang Tirtayatra Suci, Warisan Spiritual Prabu Airlangga Hidup dalam Laku Doa Tanpa Henti
Dok, foto: Kompleks Petirtaan Jolotundo, situs tirta peninggalan Prabu Airlangga di Dusun Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jumat (31/01/2026).

MSRI, MOJOKERTO - Kompleks Petirtaan Jolotundo yang berlokasi di Dusun Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, hingga kini terus menjadi tujuan utama peziarah dan pelaku laku spiritual dari berbagai daerah. Pada Jumat (31/01/2026) sekitar pukul 08.30 WIB, situs sakral tersebut kembali dipadati pengunjung yang datang dengan niat beragam, mulai dari penyucian diri, doa batin, hingga pencarian ketenangan jiwa.

Petirtaan yang dikenal sebagai Tirta Wenang, peninggalan Prabu Airlangga, berdiri khidmat di lereng Gunung Penanggungan dan dilingkupi keteduhan alam serta rimbunnya hutan tropis. Air suci yang memancar dari susunan batu andesit kuno mengalir jernih ke kolam utama, diyakini sejak ratusan tahun silam sebagai sarana penyucian lahir dan batin dalam tradisi spiritual Nusantara.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, aktivitas spiritual di Petirtaan Jolotundo berlangsung nyaris tanpa henti. Sejak pagi hingga malam hari, pengunjung silih berganti melakukan pembasuhan tubuh, mengambil air petirtaan ke dalam wadah, serta menyalakan dupa di sejumlah titik sebagai bentuk penghormatan dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, leluhur, serta nilai-nilai kesucian yang melekat pada situs tersebut.

Seorang peziarah perempuan yang enggan disebutkan identitasnya menyampaikan bahwa air Jolotundo memiliki makna mendalam bagi banyak orang.

Petirtaan Jolotundo Mojokerto Tetap Menjadi Ruang Tirtayatra Suci, Warisan Spiritual Prabu Airlangga Hidup dalam Laku Doa Tanpa Henti


“Air di sini tidak hanya untuk kesehatan jasmani, tetapi juga sebagai sarana doa, ketenangan batin, dan penguatan niat spiritual,” tuturnya kepada wartawan Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI).

Ia menambahkan bahwa tradisi membakar dupa bukan sekadar ritual simbolik, melainkan ekspresi penghormatan terhadap sejarah suci dan para leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai spiritual di Petirtaan Jolotundo.

Sementara itu, Juru Kunci Petirtaan Jolotundo menegaskan bahwa kawasan tersebut sejak dahulu diperuntukkan sebagai ruang penyucian diri dan laku doa, sehingga kesucian dan ketertiban menjadi hal utama yang harus dijaga oleh setiap pengunjung.

“Petirtaan Jolotundo ini adalah amanah leluhur. Air yang mengalir di sini merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dihormati dengan niat yang baik serta perilaku yang tertib. Kami selalu mengingatkan agar peziarah menjaga adab, kesopanan, dan tidak merusak atau mencemari sumber air,” ujar Juru Kunci Jolotundo kepada MSRI.

Petirtaan Jolotundo Mojokerto Tetap Menjadi Ruang Tirtayatra Suci, Warisan Spiritual Prabu Airlangga Hidup dalam Laku Doa Tanpa Henti


Menurutnya, keberlangsungan Jolotundo sebagai situs spiritual hanya dapat terjaga apabila seluruh pihak memiliki kesadaran batin dan tanggung jawab moral yang sama dalam merawat warisan leluhur tersebut.

Menariknya, nilai spiritual Petirtaan Jolotundo tidak hanya menarik minat peziarah lokal dan nasional, tetapi juga wisatawan mancanegara. Pada kunjungan hari itu, terlihat seorang wisatawan asal Paris, Prancis, menyusuri area petirtaan sambil mengamati struktur batu dan sistem aliran air yang masih berfungsi dengan baik hingga saat ini. Hal tersebut menegaskan bahwa Jolotundo memiliki daya tarik budaya dan spiritual yang telah melampaui batas lokal dan dikenal secara internasional.

Secara historis, Petirtaan Jolotundo dibangun pada tahun 977 Masehi oleh Prabu Airlangga sebagai bagian dari tradisi penyucian dalam peradaban Hindu-Buddha. Keutuhan arsitektur, sistem hidrologi yang presisi, serta kekokohan struktur batu yang bertahan lebih dari satu milenium menjadikan Jolotundo sebagai salah satu situs petirtaan kuno paling autentik di Jawa Timur.

Namun demikian, meningkatnya intensitas kunjungan—terlebih kawasan ini dibuka selama 24 jam—menuntut perhatian serius dalam aspek pengelolaan dan pelestarian. Tanpa pengawasan serta edukasi yang memadai, aktivitas ritual dan wisata berpotensi mengancam kelestarian struktur kuno dan kualitas sumber air.

Oleh karena itu, penguatan tata kelola berbasis konservasi, penataan zona ritual yang beretika, serta peningkatan kesadaran spiritual publik menjadi kunci utama agar Petirtaan Jolotundo tetap lestari sebagai warisan budaya, sejarah, dan spiritual bangsa.

Reporter: Firnanda

Editor: Redaksi MSRI

Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama