![]() |
| Dok, foto: Kanopi Pasar Ploso Ambruk di Usia Dini: Proyek Rp3,9 Miliar Disorot, Perbaikan Dinilai Tak Menyentuh Akar Masalah. Jumat (28/3/2026). |
MSRI, JOMBANG – Insiden ambruknya kanopi Pasar Ploso pada Rabu dini hari, 18 Maret 2026 sekitar pukul 02.00 WIB, memantik gelombang kritik tajam dari masyarakat. Struktur yang merupakan bagian dari proyek revitalisasi bernilai miliaran rupiah itu roboh secara tiba-tiba, tanpa dipicu faktor cuaca ekstrem seperti hujan deras maupun angin kencang. Peristiwa ini tidak hanya mengejutkan, tetapi juga memunculkan kekhawatiran serius di kalangan pedagang dan pengguna pasar. Jum’at, 27 Maret 2026.
Kondisi tersebut dinilai janggal. Pasalnya, proyek yang tergolong baru bahkan belum genap berumur panjang sudah mengalami kerusakan fatal. Publik pun mulai mempertanyakan kualitas konstruksi, spesifikasi teknis, serta sistem pengawasan yang seharusnya berjalan ketat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
Desakan masyarakat pun menguat. Pemerintah Kabupaten Jombang diminta tidak sekadar melakukan perbaikan parsial, melainkan melakukan evaluasi menyeluruh hingga pembongkaran total jika diperlukan. Langkah ini dianggap penting guna memastikan struktur kanopi dibangun kembali sesuai standar keamanan konstruksi yang layak dan berkelanjutan. Kekhawatiran muncul apabila perbaikan hanya bersifat tambal sulam, potensi insiden serupa dinilai sangat mungkin terulang dan membahayakan keselamatan publik.
Menanggapi tekanan tersebut, pada Rabu, 25 Maret 2026, dilakukan pengerjaan ulang pada bagian kanopi yang ambruk dengan estimasi penyelesaian sekitar satu minggu. Informasi ini disampaikan oleh Heru, pengawas lapangan asal Ploso, yang bekerja secara harian bersama enam orang pekerja.
Namun demikian, keterangan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru. Heru mengungkapkan bahwa dalam proses pengerjaan tidak terdapat pengawasan resmi dari Tim Pengelola Kegiatan (TPK). Selain itu, pada bagian kanopi lain khususnya sisi selatan dengan konstruksi serupa tidak dilakukan pembongkaran total. Perbaikan disebut hanya berupa penambahan penguatan, tanpa penjelasan rinci terkait standar maupun spesifikasi teknis yang diterapkan.
Temuan di lapangan semakin memperkuat kecurigaan publik. Penggunaan dynabolt sebagai pengikat struktur besi diduga menggunakan ukuran yang tidak proporsional lebih kecil dari standar umum untuk menopang beban konstruksi kanopi. Secara kasat mata, kondisi ini dinilai tidak memenuhi aspek kekuatan dan keselamatan. Bahkan, bagian kanopi lain yang masih berdiri di sisi utara tidak dilakukan evaluasi menyeluruh, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa potensi ambruk susulan masih sangat terbuka.
Dari rangkaian fakta tersebut, publik menilai perbaikan yang dilakukan belum mencerminkan keseriusan dalam menyelesaikan persoalan secara komprehensif. Upaya yang ada terkesan reaktif dan temporer, bukan bagian dari evaluasi teknis total terhadap mutu pekerjaan proyek.
Sebagai informasi, proyek revitalisasi Pasar Ploso tahun 2025 dikerjakan oleh CV Panama Karya, Sampang, dengan direktur Amal Fathulloh, dengan nilai anggaran sekitar Rp3,9 miliar. Dengan nilai sebesar itu, masyarakat menuntut adanya tanggung jawab penuh dari pihak kontraktor, terlebih proyek tersebut masih berada dalam masa pemeliharaan saat insiden terjadi.
Kini, Pemerintah Kabupaten Jombang berada dalam sorotan publik. Ketegasan dalam mengevaluasi, mengaudit, serta menindak pihak pelaksana proyek menjadi ujian serius bagi komitmen terhadap keselamatan dan akuntabilitas penggunaan anggaran negara. Tanpa pengawasan ketat dan langkah korektif yang menyeluruh, proyek yang semestinya menjadi simbol peningkatan fasilitas publik justru berpotensi menjadi ancaman nyata bagi masyarakat.
Insiden ini tidak sekadar soal runtuhnya sebuah kanopi, melainkan mencerminkan dugaan lemahnya pengawasan, kualitas pekerjaan yang dipertanyakan, serta potensi kerugian negara. Publik kini menunggu langkah konkret pemerintah apakah akan berpihak pada keselamatan masyarakat, atau membiarkan persoalan ini berlalu tanpa penyelesaian yang tuntas.
Reporter : Cak Loem
Editor : Redaksi MSRI
dibaca



Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments