MSRI, SURABAYA - Eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali menempatkan dunia pada persimpangan sejarah yang tidak sederhana. Dentuman rudal dan manuver militer yang terjadi di kawasan Timur Tengah bukan sekadar peristiwa strategis antarnegara, tetapi juga potret kompleks tentang bagaimana kekuasaan, kepentingan geopolitik, identitas, dan kemanusiaan saling berkelindan dalam panggung global.
Di tengah kerasnya narasi keamanan dan kalkulasi kekuatan militer, suara kemanusiaan kembali diuji. Konflik modern selalu meninggalkan jejak yang sama: korban sipil, keluarga yang tercerai-berai, gelombang pengungsian, hingga ancaman krisis ekonomi global yang merembet jauh melampaui batas wilayah perang itu sendiri.
Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Slamet Pramono yang akrab disapa Bram, menegaskan bahwa konflik tersebut tidak dapat dilihat secara sempit hanya sebagai benturan militer atau rivalitas kekuatan besar.
“Perang selalu menghadirkan dua wajah. Di satu sisi ada narasi keamanan, strategi, dan kepentingan negara. Namun di sisi lain, ada manusia yang kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa depan. Di titik inilah nurani kemanusiaan dunia sedang diuji,” tegas Bram dalam pernyataan redaksi.
Menurutnya, akar konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel lebih dominan dipengaruhi oleh pertarungan kepentingan strategis dan perebutan pengaruh di kawasan Timur Tengah yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Namun dalam praktiknya, simbol dan identitas termasuk agama seringkali dimunculkan dalam retorika politik untuk memperkuat legitimasi dan dukungan publik.
“Penting untuk dipahami bahwa konflik ini bukanlah perang agama dalam pengertian teologis. Tetapi ketika identitas agama digunakan dalam narasi politik dan mobilisasi massa, maka potensi polarisasi global menjadi semakin tajam. Padahal seluruh agama pada hakikatnya mengajarkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian,” jelasnya.
MSRI memandang bahwa dimensi kemanusiaan tidak boleh terpinggirkan dalam dinamika konflik internasional. Berbagai laporan lembaga global menunjukkan bahwa setiap eskalasi militer hampir selalu berdampak langsung pada masyarakat sipil.
Dalam konteks ini, United Nations dan International Committee of the Red Cross secara konsisten mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil serta penghormatan terhadap hukum humaniter internasional.
Bram juga menyoroti pentingnya konsistensi dunia internasional dalam menegakkan prinsip-prinsip hukum global.
“Jika hukum internasional diterapkan secara selektif, maka kredibilitas tatanan global akan runtuh dengan sendirinya. Dunia tidak boleh membiarkan standar ganda menjadi norma baru dalam penyelesaian konflik,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menilai bahwa eskalasi konflik ini berpotensi membawa dampak luas bagi stabilitas global, mulai dari lonjakan harga energi, ketidakpastian ekonomi, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan.
Dalam konteks tersebut, MSRI menyerukan pentingnya pendekatan diplomasi dan dialog sebagai jalan keluar yang lebih beradab dan berkelanjutan.
“Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa kemenangan militer tidak selalu melahirkan perdamaian yang sejati. Dunia membutuhkan keberanian untuk memilih dialog sebelum konflik ini berkembang menjadi krisis yang lebih besar,” kata Bram.
Pada akhirnya, konflik Iran bukan hanya tentang siapa yang menyerang dan siapa yang membalas. Lebih dari itu, ia menjadi cermin retaknya tatanan global sekaligus ujian moral bagi komunitas internasional.
“Peradaban manusia seharusnya tidak diukur dari seberapa besar kekuatan militernya, tetapi dari seberapa kuat ia menjaga nilai kemanusiaan di tengah konflik,” pungkasnya.
Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia
PERSPEKTIF, AKURAT & TERPERCAYA
dibaca

إرسال تعليق
Hi Please, Do not Spam in Comments